OAB

LPM Penalaran UNM

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Universitas Negeri Makassar

Tetap jaya dalam tantangan

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 25 Mei 2015

Gadis yang berjuang menjadi Perempuan Muslim.


Nita: Kamu tidak sholat?

Rara: Tidak, memang harus?

Nita: Iya sholat kan tiang agama.

Rara: Baiklah aku sholat.

Nita: Kamu baca surah apa tadi, kenapa bisa cepat sekali gerakannya.

Rara: Aku tidak membaca apa-apa yang ku lakukan adalah mengerakkan tubuh ku seperti perempuan di samping ku ini. Tapi aku tidak membaca apapun, memang harus membaca? (tanyanya heran)

Nita: Sholat itu ada tata caranya memang orang tua mu tak mengajarkannya?

Rara: (diam dan berpikir) Tidak! Orang tua ku sibuk. Sibuk memarahi ku.

Kamis, 11 Desember 2014

Doa untuk Mu







Asalamualaikum ya ukhti Siti Aflahah, semoga diri mu berada dalam keadaaan yang tercukupi segala kebutuhannya, terlebih lagi semoga selalu dalam lindungan Allah Swt. Aamiin. 

12-12 merupakan angka yang menjadi keberuntungan buat mu, pikir ku. Apatah lagi angka itu selalu kau ulang dengan penuh kebahagia dan keharuan terlebih lagi saat kau selalu bersyukur. Kau selalu mempunyai mimpi yang indah yang kau susun sedemikian rapi untuk hidup mu di hari depan. 

Kau gadis yang menyukai warna biru, aku juga penyuka warna itu hanya saja sekarang aku lebih cenderung mengilai warna merah muda yang lembut. Warna biru, akhir-akhir ini aku selalu mencari histori mengenainya ada apa si dengan warna biru yang begitu kau gilai. Yah! Akhirnya aku menemukannya di salah satu blog yang sering ku kunjungi.

Biru: Memberikan kesan Komunikasi, Peruntungan yang baik, kebijakan, perlindungan, inspirasi spiritual, tenang, kelembutan, dinamis, air, laut, kreativitas, cinta, kedamaian, kepercayaan, loyalitas, kepandaian, panutan, kekuatan dari dalam, kesedihan, kestabilan, kepercayaan diri, kesadaran, pesan, ide, berbagi, idealisme, persahabatan dan harmoni, kasih sayang. Warna ini memberi kesan tenang dan menekankan keinginan. Biru tidak meminta mata untuk memperhatikan. Obyek dan gambar biru pada dasarnya dapat menciptakan perasaan yang dingin dan tenang. Warna Biru juga dapat menampilkan kekuatan teknologi, kebersihan, udara, air dan kedalaman laut. Selain itu, jika digabungkan dengan warna merah dan kuning dapat memberikan kesan kepercayaan dan kesehatan. Sedikit terlihat di diri mu, pantas kau mengilainya dengan sangat.

Aku tak akan bercerita panjang lebar seperti biasanya tenang saja bacanya. Lewat tombol-tombol huruf yang menjadikan jari jemari ku mampu menuliskan kata membentuk kalimat yang bisa dimaknai oleh mu ingin ku ucapkan “SELAMAT MILAD SAUDARA KU”.  Aku kebinggungan entah kata apa yang pantas ku ucapkan untuk mu wahai saudara ku. Namun ku beri kau ucapan itu anggap saja aku mendoakan mu, tentunya mendoakan dalam kebaikan. 

Di usia mu sekarang yang genap 22 tahun, ternyata kau sudah tua yahh. Hahaha. 22 tahun menapaki dunia ini semakin mengurangi waktu mu di dunia ini, namun kau menghabiskannya dengan cara yang cerdas dibanding diri ku, tampak, sangat tampak dari tindakan mu, prestasi-prestasi yang sempat kau raih, dan tak luput dari perhatian penuh mu untuk ku. 

Selalu mengingatkan ku akan adanya Tuhan yang telah ku berjanji padanya untuk bersujud. Mengingatkan akan adanya amanah dari kedua orang yang ku cintai di dunia ini dengan tidak bermalas-malasan dalam menempuh ilmu yang akan aku gunakan kelak ketika ku mengabdi. Dan satu hal dari mu, kau tak pernah bosan-bosannya mengarahkan hidup ku yang tak memiliki arah. Tak pernah meninggalkan ku walau diri ku penuh dengan kekurangan. 

Aku bukan lah saudara kandung mu walaupun aku menganggap mu begitu. Aku bukanlah teman yang cukup dekat bagi mu walaupun bagi ku, iya kau teman dekat ku. Dan aku bukan lah seseorang yang cukup baik untuk mu. Tidak juga begitu penting mungkin. Tapi suatu kesyukuran aku bisa mengenal mu, belajar banyak hal dari mu. Hehehe, aku lebay ya. Maafkan aku aku tidak sempat membelikan mu kado yang indah di hari kau mengulang tanggal kelahiran mu, bukan itu saja aku juga tak mengucapkan “selamat” baik itu melalui pesan singkat atau pun suara lewat telepon genggam ku. Karena pikir ku bukankah doa yang diam itu jauh lebih memesona dibandingkan dengan ucapan “selamat untuk mu”.

Ternyata hati itu begitu lembut dan membutuhkan kasih. Memperlihatkan kasih itu akan menambah keakraban di antara kita. Maka akan ku tunjukkan itu lewat kesukaan ku yaitu menulis. Akan ku doakan  diri mu semoga hari-hari mu kedepan jauh lebih bermanfaat bagi mu, keluarga mu, bangsa mu dan Negara mu, dan yang paling utama dan diutamakan kau harus bisa menjadi sosok muslimah yang selalu aku kagumi dalam bertakwa kepada-Nya.

Dari ku kawan yang menyayangi mu dalam bungkamnya. Semoga tali silaturahmi diantara kita akan tetap terjalin indah walau pun badai keegoisan selalu melanda.

Makassar, 12 Desember 2014

Senin, 08 Desember 2014

KAKAK KANDUNG KU SOMA SALIM SAIN. SUKSES KAKAK KU










Sebelum bertemu dengan mu hidup ku bahagia,
Semenjak bertemu dengan mu ku semakin bahagia. (Kridayanti’s song)

Begini gambaran hati ku untuk kakak kandung ku SOMA SALIM SAIN.
Maafkan aku yang telah lancang memanggil mu dengan sebutan kakak kandung,
Maafkan aku yang begitu percaya diri menyebut diri ku adik mu,
Maafkan aku sekali lagi karena telah menggangap mu keluarga ku.
Begitu aku akan sangat menyayangi mu. 

Aku ingat betul saat pertama kali melangkahkan kaki ke rumah nalar dalam sesi wawancara. Waktu itu kau adalah pewawancara ku, saat itu aku menjawab semuanya dengan apa adanya. Kau tahu saat itu adalah saat pertama kalinya aku melihat mu dan aku lansung melihat sosok kakak dalam diri mu meski waktu itu kau tak banyak bertanya pada ku. Aku membuat mu sakit perut kala itu, karena jawaban yang ku berikan membuat mu berkocok perut. Entah apakah karena jawaban ku semua tak masuk akal atau karena jawaban ku tak ada yang berkualitas. 

Kau orang ketiga setelah kak Fajar Azis dan Nene ku yang mampu menyentuh rasa percaya ku akan namanya memiliki keluarga sebelumnya aku rasa aku tidak memilikinya di Indonesia ini. Aku selalu bahagia dengan pertemuan itu. Terima kasih.

Aku ingat benar waktu itu aku tak punya rasa malu lagi. Aku bahkan menanggis di depan mu dan menceritakan semua tentang keluarga ku. Kau tahu kan tentang diri ku yang sebenarnya. Jujur saja selama ini aku tak pernah bisa menanggis di depan orang-orang baik itu aku sedih apa lagi saat aku bahagia. Aku selalu tertawa terbahak-bahak karena ingin dunia tahu bahwa aku kuat dan tangguh. Meski pun batin ku kering nan rapuh.

Di depan mu, aku menumpahkan segalanya mulai kerinduan ku terhadap orang tua ku yang sudah lama tak pernah kunjung melihat ku. Padahal celengan rindu ku kepada mereka sudah penuh. Dan aku selalu berfikir apakah mereka tahu panjang rambut ku sekarang sebahu atau sepinggul, aku yakin mereka tidak akan tahu. Apa mereka tahu betapa setiap malam ku abiskan banyak waktu untuk membunuh rindu kala datang mempesona, ku yakin mereka tidak akan hiraukan itu, aku bertanya lagi apa mereka tahu bagaimana perjuangan ku untuk menyuruh mereka pulang menjenguk ku. Sudah bosan rasanya aku dengan usaha-usaha itu semua tak ada yang berhasil. Intinya aku ingin terlihat tak membutuhkan mereka tak merasa sepi tanpa mereka agar hati mama dan papa ku akan aman-aman saja tanpa rasa khawatir meninggalkan ku dulu, meski itu semua permintaan nene yang selama ini ingin punya cucu yang menghuni gubuknya yang indah. Sungguh aku rindu mama dan papa. Kakak kandung ku tahu itu kan? Sampai masalah keuangan ku yang mungkin saja orang-orang tak tahu bahwa aku seperti itu. 

Tahu tidak kak, aku begitu trauma dengan kata “ditinggalkan” karena dulu saat umur ku 10 tahun bapa dan mama ku meninggalkan ku di rumah nene. Jujur setiap kali ada yang meninggalkan ku rasanya itu begitu sakit, sedih sekali hingga tak mampu membuat ku terlelap. Dan kali ini ternyata diri mu ingin pergi. Aku rela dengan kepergian mu karena itu semua untuk masa depan mu juga semoga aku bisa menjadi adik yang pantas untuk mu. Bisa sepintar dan sehebat diri mu. Aku akan berusaha untuk menjadi pintar dalam bidang matematika seperti diri mu kakak kandung ku. doakan aku kak.

Walaupun banyak yang berkata kak Soma itu seperti ini seperti itu. Tapi hati ku tidak bisa menafikkan bahwa kau juga manusia yang mutlak akan membuat salah, dan aku selalu sayang pada mu sebagai kakak kandung ku. Begitu sayangnya diri ku kepada mu aku ingin selalu bisa seperti mu belajar keras untuk hasil yang terbaik seperti yang selalu kau lakukan. Walau sering kau memarahi ku, ku tahu itu semua cara mu mendidik ku. Aku suka dengan cara itu. Kau tidak pernah melihat ku kurang hanya saja kau melihat diri ku kurang berusaha. Aku diam-diam mulai belajar keras karena kau selalu menginspirasi ku kakak kandung ku.

Selamat berangkat ke kediri untuk menjadi pribadi yang bijak dan hebat pastinya. Tuhan tidak tidur teruslah berusaha. 

Ketika kau melakukan usaha mendekati cita-citamu, di waktu yang bersamaan cita-citamu juga sedang mendekatimu. Semesta bekerja seperti itu. (Fiersa Besari).

Jujur aku belum bisa terlelap. Semoga saja siang nanti aku tidak tidur di kelas.
Makassar 09 Desember 2014. Jam 03.34 am.

Rabu, 03 Desember 2014

Kabar Mu, Membuat ku Sedih




Sungguh sakit mendengar kata mereka bahwa diri mu kini telah ada yang memiliki, beruntung sekali perempuan itu. Bisik batin yang mulai menciut karena dengar kabar itu. Siapakah dia? Bertanya tanpa ada jawaban. Entah kenapa rasanya begitu sesak, sumpah baru kali ini aku berada di ruangan yang cukup besar namun membuat ku kesulitan untuk bernafas. Kali ini itu karena mu. Karena kabar yang mengatakan kau dengan perempua itu telah resmi. 

Tau tidak, mulai detik itu mata ini tak kuat lagi untuk melihat mu, bahkan untuk mendengar kabar mu saja aku sangat takut, ketakutan yang dasyat. Sungguh aku takut akan diri mu. Menyebut nama mu pun rasanya ku tak mampu. Ingin ku lumpuhkan ingatan ini tentang diri mu namun itu takkan mungkin terjadi karena kau telah mengakar dalam minda ini. Kau telah berhasil mengambar sosok untuh dengan semua jiwa raga mu. Ku mengharapkan mu walau sangat mustahil.

Senin, 01 Desember 2014

Hobi Baru Rasa Malu

Hobi yang baru yang selama ini tak pernah terlintas di benak ku. Satu kali, sekali lagi dan akhirnya berkali-kali. Seru asik mengenal kalian yang telah mengenalkan dunia baru ini pada ku.

Pertama kali berani untuk di kutip

Rasanya malu, karena harus bisa bergaya di depan orang umum. Bayangkan saja betapa Fort Rotterdam sang bangunan tua di Kota Makassar yang merupakan tempat wisata masyarakat lokal maupun mancanegara. Begitu banyak pasang mata yang berlalu lalang dan diri ini harus di abadikan gayanya. lucu dan juga memberikan sensasi malu yang berbeda.

Kedua kali kutip tanpa rasa malu





Kali  ini lumayan tiada rasa kikuk yang teramat. mungkin karena tempat pengambilan gambarnya yang bukan merupakan lokasi wisata di Kota Makassar. Terima kasih untuk photografer yang baik hatinya TRI dan UNUZ.


Minggu, 30 November 2014

Menunggu Mu Pulang!

"Nad sudah bangun" tepat jam 05.00 dini hari. pesan yang ini kau kirim ke telepon genggam milik ku. Aku heran pertama kalinya kau mengirimi ku pesan singkat tak mengandung kata-kata becandaan dari mu yang menjadikan hari-hari ku penuh dengan tawa. 

Tau pesan tersebut ku baca tepat jam 08.00 pagi, maafkan aku yang terlambat bangun dari tidur semalam ku berhubung hari itu aku tidak diwajibkan untuk sholat subuh seperti biasanya. Maklum saja aku perempuan punya hak istimewa yang berbeda dengan mu wahai kaum adam. Dengan cepat ku mencoba membalas pesan tersebut, namun kau tak mengirimkan balasan untuk ku. 

Hati ku begitu gelisah. Entah aku juga tak mampu mengartikan maksudnya. Tangan ini tak ingin diam terus saja menekan-nekan tombol yang ada di telepon genggam milik ku mencoba mendail nomor mu, dan ternyata kau menolak panggilan ku. Tapi kali ini aku tidak tersinggung sekali lagi aku mencoba untuk mendail dan hasilnya sama saja kau menolak panggilan ku.

Aku diam sejenak ada sakit yang ku rasa, napas ku begitu sesak mata ini mulai memainkan perannya saat hati merasa perih. Tetiba telepon yang masih utuh dalam genggaman ku berdering aku mencoba melihat siapa gerangan orang yang sedang memanggil ku, dan ternyata diri mu. kau tau detak jantung ku begitu kencang memompa darah ke seluruh tubuh ini yang tak setetes pun mampu membawa mu keluar. 

Aku begitu girang di selimuti resah tak berkesudahan akan kabarnya diri mu. Dan seperti kekhawatiran ku kau menjelaskan melalui telepon genggam mu untuk ku dengarkan lewat telepon genggam ku "Nad di bandara  ma ka ini mau ma ka berangkat ke Jakarta selama tiga bulan di sana selebihnya selama kurang lebih satu tahun setengah aku akan berada di suatu daerah *****". inilah kali terakhir kau mengabari ku. Hingga kini aku masih menunggu kabar mu begitu juga aku masih setia menunggu diri mu.



Masih di sini menunggu mu pulang.


Merindukan Mu!!!



Setahu ku kau itu jauh.
Tapi selama ini kau ada di samping ku menemani ku layaknya bayangku.
Aneh memang.
Bersama mu bagaikan aku diatas normal, tidak seperti biasanya.
Merindukan mu hal biasa dalam siklus hari ku.
Tapi pertanyaan ku apa kau seperti ku?
Entahlah.

Beberapa waktu ini aku terlalu takut untuk menulis. 
Aku takut sekali menulis karena takut kalau nanti rasa ku pada mu akan ku tumpahkan dengan sekejap ditulisan ku.
Begitu takutnya aku hingga setitik goresan pun tak ingin ku ukir di lembaran putih ini dalam kurung waktu yang cukup lama. 
Hanya saja malam ini di awal desember, membuat ku tak mampu lagi menahan rindu akan diri mu yang selama ini menghilang walau ku tau kau berada di tempat yang nun jauh disana dengan ditemani alam yang indah,  namun saja hati ku masih membutuhkan kabar dari mu walau hanya menyapa ku tanpa perlu selalu, cukup sekali selama kepergian mu. Hanya itu. 

Namun itu pun tak pernah kau lakukan. Taukah kau betapa berharganya itu untuk ku yang sangat merindukan mu. Kepada mu yang mengenalkan ku akan benda ini.