Hujan begitu rindu kepada tanah, bertamu dini hari begitu terburu-buru pikirku. Mataku sulit terjaga, tubuhku masih bersetia dihangati selimut. Kepalaku masih asik berputar-putar memikirkanmu. Ah! Sial pikirku. Kenapa bisa kau mewujud racun.
Bel sholat subuh menggema seantero asrama, tidak akan ada seorang pun yang mampu terlelap mendengar bisingnya pertemuan antara besi kecil dan besi besar. Seluruh kaki perempuan pejuang terseok-seok melawan dinginnya subuh, seperti halnya aku yang sedang berjuang untuk tidak terlalu memasukkanmu ke dalam perasaanku. Sholat berjamaah pun dimulai, dilanjut membaca kitab dan selanjutnya kelas intermedite pun dimulai.
Perhatianku tiba-tiba kembali memikirkanmu, aku terlalu takut kamu terluka. Ah! Aku benci merasakan ini, kutuk diriku. Kelas pun berlangsung dimulai dengan bedak-bedakkan, sebut-sebutan kosa kata yang telah diberikankan kemarin jika lupa bedak akan segera menghiasi wajah ngantuk kami. Aku memulai kelas dengan kerja keras, mengarahkan pikiranku fokus menggali ingatan akan kosa kata yang baru kemarin diberikan, kosa kataku harus bisa melawan dirimu yang bertengger anggun dimindaku.
"Kejang-kejang" kosa kata yang begitu sulit menggalahkanmu, kamu terlalu tangguh, syukurlah. Pagi yang menyenangkan, aku terlepas dari bedak. Tuhan mengirimkan bacaan untuk menjawab segala tanya ku semalam tentang lamban.
Lamban kata yang sedari dulu ku hindari, karena cepat adalah pilihan hidupku. Segala sesuatunya harus berjalan sesuai target yang telah ku rencanakan. Dari dulu aku tidak pernah merasa terlambat dalam memahami apapun, aku adalah pembelajar yang cepat, begitu kata para guru-guruku. Aku bebas dari derita kesulitan paham akan sesuatu. Dan kini, grammar menghantamku bertubi-tubi.
Aku begitu sulit melewati fase demi fase dalam memahami rangkaian kata, mengidentifikasi fungsinya dan juga makna dari setiap kata-kata yang disajikan. Aku binggung, marah, kecewa dan juga merasa hampa sekali, itu dulu. Sekarang aku sadar diri, ternyata memang aku masih kurang.
"kamu itu diuji lewat bahasa Inggris. Lewati ujian ini". Ucap Miss Jun beberapa bulan lalu.
"Tidak ada yang tidak pantas naik level, selama kamu masih tetap belajar memahami materi dengan sadar". Ucap tutorku.
"PT bukanlah ukuran bahwa kau serius ingin memahami bahasa inggris, PT hanya medan yang harus kau hadapi untuk mengukur sudah sejauh mana kau memahami materimu selama ini, jangan-jangan kau tidak bergerak (belajar) tapi merasa bergerak (belajar)". Ucap seseorang kepada beberapa bulan lalu.
Aku yang memulai, aku yang harus menuntaskannya. Prinsip hidup yang selalu ku pegang, ketika berani memulai berarti harus berani menyelesaikan. Terseok bukan berarti tidak akan sampai, pemenang tidak selamanya yang tercepat dan aku yakin kelambanan ini memberiku waktu lebih untuk memahami banyak hal.
Andai saja aku tidak lamban dalam memahami materi, aku yakin tidak akan pernah mengenal Mbak Nur, yang begitu setia mengajariku tentang tenses meskipun saat itu Mbak Nur sedang ada kelas HC yang padatnya gila-gilaan, Adnan yang begitu rajin membuatkan soal-soal baru untuk ku rangkai meskipun saat itu dia sedang berada di kelas PG, Naufal, yang setiap hari mengirimiku bacaan pendek berbahasa inggris tanpa ku minta, Kak Imapel, yang selalu memberikan kata-kata semangat dan segala macam tips dalam belajar, Ghozali, yang selalu mengarahkan meskipun menjengkelkan, Asnur, yang selalu memaksaku dengan sangat keras untuk belajar, belajar dan belajar saat aku merasa sudah tidak mampu lagi belajar, Bang Saleh, yang selalu ku sita waktu istirahatnya demi memahami modal dan Angga, sosok yang sekarang begitu sabar menungguku menganalisa satu per satu kosa kata yang ku baca tanpa ku pahami maknanya, sosok yang menyadarkanku saat aku mulai terlelap dengan mimpi-mimpi tanpa aksi nyata. Aku yakin kalau saja aku tidak lamban maka mereka tidak akan pernah hadir dihidupku. Lamban, menghadirkan mereka sebagai bacaanku mencari jalan pulang.
0 Komentar