Selamat bertahun baru tanpa begadang hingga larut, tanpa band rock and roll yang membuat basah baju, tanpa pernak-pernik yang muncul tiba-tiba di sepanjang jalan protokol.
Jumat merupakan hari pembuka di tahun yang penuh harap. Berharap para virus lenyap, berharap lapangan kerja kembali pulih, berharap kelas daring segera berhenti, berharap badan bisa sehat agar kuat melawan radikal bebas. Inilah tahun harapan bagi masing-masing individu.
Aku sendiri berharap bisa konsisten dalam menjalani pola makan sehat karena sadar bahwa apa yang diasup oleh tubuh akan membentuk sel-sel penopang raga yang kelak sifat, karakter dan perilaku kita berasal dari makanan kita. Makanya kata seorang bijak "kita adalah apa yang kita makan" karena setiap tiga puluh hari tubuh menganti sel-selnya dan sel baru yang dihasilkan adalah dari bahan-bahan yang kita makan.
Bertolak dari prinsip tersebut aku memilih untuk belajar konsisten dalam hal pemilihan bahan dan cara pengolahannya. Baiklah beberapa waktu lalu banyak yang bertanya bahkan mengonfirmasi bagaimana caranya bisa tetap fokus belajar sambil tetap memasak. Pertanyaan ku kepada mereka yang bertanya, apakah menurut kalian makan itu penting? Atau sekedar ingin yang sewaktu-waktu bisa tidak dipenuhi? Dan jawaban mereka makan itu penting. Dan aku sepakat. Baiklah aku akan menjawabnya sambil membeberkan rahasiaku bisa tetap belajar dan juga memasak.
Pertama. Alasan kenapa aku tetap memasak ditengah kesibukanku belajar. Aku merupakan pribadi yang susah sekali mencicipi makanan di luar rumah alias aku tidak terlalu senang makan masakan yang diolah bukan dari tangan-tangan orang yang ku kenal baik. Sebut saja aku orangnya overthinking, sulit rasanya menelan makanan dari luar, apalagi kalau ditempat yang aku tinggali ada kompor.
Kedua. Aku tidak terlalu cocok dengan masakan-masakan yang menggunakan penyedap rasa karena akan menyebabkan gatal-gatal dipermukaan kulitku bisa sampai ubun-ubun.
Ketiga. Aku agak cerewet dalam memilih makanan, baik bahan dan cara mengolahnya. Maka dari itu aku malas sekali untuk beli makanan jadi. Serasa tidak makan kalau makanan yang ku lahap berasal dari dapur orang asing.
Caraku tetap memasak dan juga tetap belajar adalah mengatur waktu dengan sebijak mungkin. Jam tiga dini hari adalah waktu yang tepat untuk mengolah sayur dan juga lauk (tahu, tempe dan jamur) berhubung aku orangnya tidak bisa mengonsumsi protein hewani itu menambah mudah jalanku untuk memasak. Bersebab mengolah bahan nabati jauh lebih mudah untuk matang dibanding dengan hewani.
Aku hanya membutuhkan tiga puluh menit sampai empat puluh menit waktu untuk memasak dua jenis makananku. Sekedar informasi juga, aku bukanlah maniak sambal jadi tidak butuh waktu tambahan untuk mengulek cabe. Aku adalah maniak teh rempah (jahe, kunyit, cengkeh, serai, kapulaga dan lemon). Setelah masakan siap dihidangkan, waktunya bersih-bersih dapur sekitar lima menitan. Hanya menyapu berhubung piring kotor sudah ku cicil sedikit demi sedikit setelah dipakai langsung ku cuci (nanti-nanti sama dengan kegagalan) berhentilah untuk menunda.
Setelah itu dilanjut dengan wirid sambil menunggu sholat subuh berjamaah sekitar sepuluh menit dan dilanjut dengan membaca Al-quran sekitar lima belas menit sebelum akhirnya kelas subuh pun dimulai hingga hampir jam enam pagi. Selanjutnya aku akan mengulang materi kelas sambil sesekali menata ulang letak barang-barang yang ada di kamarku.
Siang waktunya kelas sampai petang. Setelah pulang ke camp aku pun lanjut dengan segala macam program mulai dari sholat berjamaah, baca Al-quran, kelas malam dan absen camp. Setelah itu aku akan mengulang materi kelas lagi sampai waktu tidur pun dimulai.
0 Komentar