Ad Code

Responsive Advertisement

Ujian dan Nilai Diri

Ini koran pagi ini. Ucap Salwa ketika aku sedang asik merangkai kata untuk mendeskripsikan perasaanku pagi tadi. Koran itu segera kuraih. Aku tertarik membaca kolom Politik dan Hukum. Bukan Politik maupun Hukumnya yang menarikku untuk segera kujelajahi tubuh surat kabar kompas edisi 07 Januari 2020. Ada foto Ibu Megawati dan judulnya Megawati, Pendidikan, dan Anak Muda.

Langsung ku arahkan mataku membaca baris demi baris paragraf dikolom tersebut. Ada yang menarik bagiku. "Gelar bukan segalanya" dicetak tebal dengan ukuran lebih besar. Ibu Megawati menuturkan pengalaman hidupnya. Gelar pendidikan bukan segalanya. Itu sesuatu yang penting, tetapi ada hal lain yang lebih penting dari semua itu, yakni tekad dan semangat berjuang serta keyakinan pada arah dan tujuan hidup yang ingin diraih. Sungguh aku dihipnotis dengan kata-katanya.

Ibu Megawati memiliki pemikiran yang jarang dimiliki oleh pemuda sepertiku. Aku yang dulunya berpikir mencari ilmu itu harus di sekolah sehingga jika ingin belajar harus kesekolah dulu baru mendapat ilmu. Aku juga lupa bahwa semangat juang itu merupakan mentalitas dasar yang harus dimiliki oleh sahaya ilmu sepertiku.

Fenomena PT yang terjadi di Smart.ILC sedikit banyak membuat peserta terjebak dengan dirinya sendiri. Banyak yang menyerah padahal tujuan yang dituju belum sampai. Akupun hampir melakukannya. Ku ingat betul saat itu, mengikuti PT ke PG adalah wadah tempatku belajar yang sungguh luar biasa. Aku dibuat berulang-ulang terjatuh agar kesombonganku hancur.
Hampir empat bulan aku berjuang yang pada akhirnya membuatku paham dan mengenal diriku seutuhnya.

Aku bukan lagi aku yang menolak kenyataan diri, menolak untuk diuji, menolak untuk diakui kemampuannya. Meskipun begitu tidak banyak yang mampu bertahan. Bersebab sabar yang kurang panjang, tekun yang timbul tenggelam, mentalitas kerupuk semua itu menjadi variabel terpenting untuk meruntuhkan peserta. Ada yang lebih berani lagi, ingin lompat level karena merasa mampu meskipun belum teruji. Tidak bisa dipungkiri perasaan merasa hebat bersebab pengetahuan yang pernah dicicipi merupakan faktor terkuat penyombongan dan keakuan diri. Disitu aku bersyukur karena belum sempat mencicipi pengetahuan ditempat lain.

Ada yang bertahan hanya saja bergeser dari tumpuan awal. Banyak macam hasilnya, ini karena satu hal yaitu ujian, camkan baik-baik. Ujian, bukan seleksi seperti pemahaman awal kita. Kata Ibu dikelas bahasa. Kalau kita tidak mampu memaknai jelas, akan beda hasilnya. Padahal setiap konselling selalu diingatkan untuk tidak menitik beratkan pada persoalan nilai, yang dianggap paling penting adalah hasil evaluasi diri. Bukankah itu mengarahkan kita untuk berpikir bahwa kita sudah sejauh mana latihan, kita sudah sejauh mana persiapannya, kita sudah sejauh mana berbenah diri untuk masuk dilevel selanjutnya, bukannya melakukan segala macam cara yang menjatuhkan nilai diri, untuk apa nilai angka kalau diri sendiri hilang nilainya.

Posting Komentar

0 Komentar