Ad Code

Responsive Advertisement

Laku Penanam


Mentari menyapa dengan sinar yang menyilaukan, berdiri gagah dari arah timur, memberi kehangatkan sembari menguapkan embun pagi. Langkah semangat terpanggil menyentuh tanah, mengenggam cangkul yang baru pertama kali terjamah oleh tangan, meminta belajar mengenal tanah lebih dekat. Cangkul, ku arahkan menggali tanah sedikit demi sedikit hingga membentuk bukit kecil, polibag sudah menunggu untuk berjumpa tanah subur yang menghidupkan bumi.

Kantong hitam berpori dua belas mulai terisi, tangan-tangan munggil mulai terampil memilah tanah dari kerikil, tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat media tanam sebanyak tiga puluh kantong pagi ini. Berdiri mencangkul, duduk kembali menggisi polibag, ditengah kami bermanja-manja dengan tanah satu per satu kisah pun tertuangkan. Pagiku bertinta menuliskan puisi.

Petani-petani cantik masih semangat membenihkan tanaman kepada tanah, sesekali kami terhibur dengan tingkah cunky, bar (sepasang kelinci) dan juga kali (kucing). Sungguh aku mengimpikan suasana rumah tempatku menumbuhkan benih unggul kelak sama dengan ini. Aku membayangkan mereka akan tumbuh dengan aktif, berlari kesana kemari sambil belajar memahami hidup langsung dari alam. Kakiku dan tanganku tidak lagi canggung bermesra dengan tanah, aku ingat, kamu pernah memaksaku menyentuh tanah setiap paginya. Kini, tanpa dipaksa pun aku mau bersentuhan dengan tanah.

Media tanam. Berkantong-kantong disusun serapi mungkin agar terlihat cantik ala taman tempat bidadari second story bertamasya. Ada yang menata letak tumbuhan dan ada juga yang memindahkan media tanam agar indah dipandang mata. Aku memperhatikan satu per satu dari mereka. Sungguh, ada rasa bahagia yang mengalir pagi ini, melakoni peran hidup yang sesungguhnya, bergerak merawat. Sadar akan peran diri seutuhnya sebagai makhluk ciptaan.

Menunggu. Fase dimana benih tumbuh hingga waktunya panen. Disinilah peran paling penting seorang penanam, harus rutin memilah rerumputan dari benih agar tumbuhnya tidak terganggu. Memberikan air segar disetiap pagi dan petang supaya tetap terjaga segala unsur hara yang dibutuh selama bertumbuh, menjadi penjaga paling aman dari para ayam-ayam memangsa tumbuhan kecil. Menjadi pembaca ulung kalau-kalau ada yang berubah dari warna daunnya kelak. Kata Miss Filzha "Petani diuji kalau disekitar tumbuhan yang ditanamnya, ada rumput yang berkembang subur" akupun memintanya untuk menjabarkan kalimat yang barusan dilontarkan. Dan akhirnya aku paham.

Seorang penanam bukan melulu tentang media tanam dan segala biji benih, dia juga berkaitan erat dengan laku kesabaran. Konsisten yang terus menerus, setiap pagi ke pagi terus berulang hingga haripun berganti bulan. Penanam tetap terbangun di gelapnya tinta cumi-cumi berlomba dengan kokok ayam yang saling sahut-sahutan, mlaku siram dan mencabut rumput liar agar tumbuhan tetap mampu menerima zat-zat baik dari tanah. Menunggu tidak akan membosankan kalau kita tahu caranya. Seperti seorang penanam yang tidak pernah bosan menunggu waktu panen tiba untuk menggisi perut-perut kita semua. 

Posting Komentar

0 Komentar