Dunia dan segala perputarannya. Penopang masa kini adalah ekonomi, semua berbau dollar, serasa hidup tanpanya adalah nihil. Hari bising membicarakan naik turunnya kurs, segala cara dilakukan untuk menstabilkannya. Meskipun sebagian pihak menyukai saat dollar naik bahkan ada juga yang suka kalau turun, bermacam-macam tipe manusia. Dan inilah bumi tempat kita berpijak.
Tuhan dan Uang berbeda bunyi hanya saja sulit untuk membedakan makna nyatanya. Jangan heran ketika kau bertemu dengan rupa-rupa manusia yang me-Nuhan-kan Uang. Menyembah segala yang berkilau dan berjenama. Gila pamer kesana kemari demi sebuah pengakuan. Manusia bumi berkiblat barat telah muncul, mungkin saja banyak diantara kita. Uhuk! Sadarkan diri dulu, sebelum menampar yang lain, agar bisa waras bersama.
Segalanya tidak melulu tentang uang tapi segalanya butuh uang, what? Sungguh suatu perumpamaan anak manja, aku yakin mereka belum pernah menyentuhkan kaki langsung ke tanah berjalan tanpa sendal, memegang tanah guna menanam kangkung atau berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk belajar bersama alam. Semoga aku keliru.
Dari sekolah dasar aku terbiasa berangkat tanpa dibekali uang, makan hasil bungkusan bekal buatan mama mungkin saat itu papa tidak punya uang lebih untuk jatah jajanku atau memang mama senang mengisi perut anaknya dari hasil racikan tangannya sendiri. Hingga aku tumbuh dewasa aku belajar mencari uang sendiri, dari melakoni hobby, meracik makanan dan minuman sampai membuka lowongan private yang niat awalnya hanya untuk menemani mereka belajar karena aku senang untuk semua yang berbau buku, pulpen, angka dan huruf, aku dihargai dengan rupiah. Menurutku itu bonus karena aku tidak pernah mematok harga untuk sebuah pendidikan, karena pendidikan sungguh tidak ternilai sangking bernilainya.
Ironis. Pendidikan kini menjelma barang mewah yang dijajahkan seantero Nusantara membuat mata-mata sebagian besar anak-anak menangis darah hanya untuk duduk digedung berpendingin, berkursi empuk yang ujung-ujungnya kelak menjauhkan tanah dan tumbuhan dari mereka. Pendidikanku kini kau berubah sadis terhadap anak bangsamu sendiri. Penerima beasiswa mereka yang kaya, lantas yang miskin tetaplah tumbuh tanpa pendidikan formal berujung gelar pengangkat derajat di kalangan kaum elit ber-Tuhan-kan Uang.
Pendidikan dan ekonomi adalah organ vital dunia masa kini tidak bisa dipungkiri dunia akan lumpuh tanpa dua napas ini. Hanya saja untuk manusia-manusia ber-Tuhan-kan alam mereka akan tetap hidup, belajar, makan, bertamasya bahkan bertumbuh layaknya tumbuhan yang selalu memohon melalui pepohonan yang mereka tumbuhkan dihati masing-masing hingga teduh menjelma ketenangan diwajah yang tersenyum. Manusia jenis ini semakin langka, mereka hidup dengan sederhana segala sesuatunya dicukupkan mengikuti takaran wajar seperti ajaran alam yang tidam menggurui.
Uang. Masa kejayaanmu begitu lama, kapankah kau mau mundur dari tahtamu? Biar bumi ini kembali damai, tanpa gaduh kekuasaan, tanpa bunyi bom memusnahkan, tanpa pamer menumbuhkan iri. Uang pergilah menjauh agar mereka kembali kepada alam yang membentangkan ayat-ayat Tuhan sebagai panduan menemui jalan pulang.
Uang, uang dan uang. Kekuatanmu membuatku cemburu,
0 Komentar