Ad Code

Responsive Advertisement

Butuh Kata


Nona kecil yang tidak terbiasa mengonsumsi nasi di pagi harinya. Saat itu ia duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar. Setiap pagi Nona akan diberikan sarapan berupa bubur kacang hijau hasil rebusan papanya, rasanya itu sangat hambar hanya ada rasa kacang hijau. Papa adalah chef untuk sarapan pagi. Berhubung mama jam kerjanya jauh lebih padat, pagi-pagi sudah harus berjualan kue basah, selesai dari itu mama akan mengadakan pertemuan untuk jejaring penjualan kosmetik, dan tidak luput mengecek barang-barang apa saja yang kosong di kedai mini berisikan barang campuran. Sungguh sangat sibuk bukan? Iya, itu adalah sosok mama yang tangannya hanya ada dua hanya saja difungsikan melebihi jumlahnya. Lantas waktu bersamaku tergadaikan.

Jadilah nona kecil hanya akrab dengan sosok papa yang penyabar, tekun dan sedikit kata. Papa akan berbincang denganku kala itu persoalan menghitung dan mengeja, dan aku suka dengan aktivitas itu. Dari situ aku akan punya teman bercerita. Dan tentu saja mama tidak pernah melakonkan aktivitas itu. Mama hanya rajin mengajar anak orang lain yang datang ke rumah untuk diajarkan membaca Al-Quran. Maklum saja mama seorang Qori semasa mudanya. Dan bakat itu tidak diturunkan kepadaku.

Aku ingat betul kala itu. Mama punya kerjaan di kota, oy, mama juga seorang kepala koki untuk acara resepsi atau acara-acara besar. Mama akan diundang untuk menjadi orang yang memutuskan saat acara makanan apa saja yang wajib ada itu semua mama yang harus tentukan, mama yang menuliskan semua bahan-bahan yang diperlukan dan bagaimana cara untuk membuat makanan tersebut. Dan sekali lagi bakat itu tidak diturunkan kepadaku.

Kalau seperti ini aku akan menjadi anak yang dititipkan dari satu rumah paman ke rumah paman yang lain. Dari kecil aku sudah menjadi seorang penjelah, hebat kan? Aku dibesarkan secara non manden berpindah-pindah. Aku lupa nama pamanku karena aku hanya dibolehkan memanggilnya uncle tanpa diikuti namanya, kata mama dan papa tidak boleh memanggil nama orang yang lebih tua.

Saat seperti ini aku tidak melihat wajah penyesalan di wajah mama berbeda dengan wajah papaku, terlihat sendu ketidaktegaannya menitipkanku selalu disetiap mama punya kesibukan. Papa akan selalu banyak menitipkan pesan, entah itu kepadaku: disini kalau butuh apa-apa bilang sama uncle, dan juga kepada uncleku: si nona dibeliin makanan saja ya bang. Iya, dirumah uncle aku tidak akan pernah makan makanan hasil olahan tangannya berhubung uncleku masih mengolah daging babi dan aku tidak diperbolehkan memakan daging tersebut. Kata papaku keyakinan kami berbeda dengan uncle. Dan hanya papa yang berbeda, enam orang pamanku semua bisa memakan daging tersebut.

Dirumah uncle kala minggu tiba aku akan dibawa ikut ke gereja juga, disana aku mendengarkan cerita tentang kenabian dari kitab injil, selama sejaman kemudian masuk keruangan yang berisi orang dewasa sedang asik mengalunkan lirik-lirik indah diikuti nada sendu tak jarang ku lihat banyak dari mereka yang menangis. Ketika itu aku hanya duduk ketika uncle duduk dan berdiri ketika uncle berdiri, aku tidak diwajibkan ikut bernyanyi.

Ketika hari mulai siang. Uncle akan mengantarkanku kembali kerumah mama dan papa karena senin aku akan bersekolah lagi. Kata uncle sabtu lagi ya baru datang kerumah uncle. Aku sebenarnya lebih nyaman dirumah, ada ikan, ada kucing, ada ayam yang bisa ku ajak bercakap-cakap ketika kedua orang tua ku hilang kata kerena lupa kalau aku punya telinga dan mulut.

Posting Komentar

0 Komentar