Nenek. Tinggal didesa cappalete Kelurahan Tadokkong Kecamatan Lembang, Pinrang. Tinggal di rumah panggung yang terbuat dari kayu hasil tanaman kakek yaitu kayu Jati. Bentuk rumah berbentuk L dimana dapur berada paling belakang. Ada jembatan kecil sebagai penghubung rumah nenek dan jalan raya poros bakaru. Dulu aku sering duduk dipinggirannya saat menunggu teman yang belum tahu benar rumah nenek.
Saat melewati jembatan kita akan menemui pokok mangga yang besar, ada mangga panjang, mangga manalagi dan mangga apple, berjejeran senada berperan sebagai benteng untuk rumah nenek. Kemudian sebuah sumur sebagai sumber mata air utama kami. Di sudut sebelah kanan ada pohon kelapa kecil berjenis hibrida meskipun masih kecil sudah menghasilkan buah. Di halaman bagian kiri ada pohon-pohon serai, kemangi, cabe, kunyit, jahe, dan lengkuas. Di halaman bagian kanan ada pohon terung ungu dan terung bulat kecil, ada beberapa pohon tanaman ubi kayu, dan ubi jalar. Halaman belakang rumah dipenuhi pohon pisang dan ada juga pohon kelor. Hampir lupa didepan tangga nenek ada tanaman menjalar yaitu daun sirih. Dan tepat di depan lego-lego nenek ada rambutan yang buahnya super lebat.
Nenek. Senang sekali mencabuti rumput-rumput kecil yang berusaha tumbuh di sekitar tanaman peliharaan nenek. Setiap pagi selepas memasak nenek akan menjenguk semua tetumbuhannya. Petang kembali, hal yang serupa pun diulangi nenek. Dulu bagiku itu biasa saja, bahkan aku sedikit malas kalau disuruh nenek menyirami mereka dan menggumpulkan dedaunan berwarna coklat hasil pokok-pokok subur dengan pupuk kasih sayang.
Kini, aku paham betapa tetumbuhan itu membuat kita bertumbuh, ia juga mengajarkan kita tentang menghamba yang sebenarnya. Dari gerakan bercocok tanam tersebut kita diajarkan rukuk untuk merendah dan melihat tanah, melihat kekiri dan kekanan sebagai lambang menghargai semua orang. Dari tanah kita belajar mengenal Tuhan, meskipun kini aku masih mencari jalan pulang.
Nenek dan halaman. Aku ingat betul saat itu nenek memetik dua buah terung dan beberapa tangkai daun kelor kemudian dimasaknya, jadilah santapan sayur bening terenak menurutku, bumbunya hanya garam. Percayalah masakan nenekku paling membuatku rindu. Apalagi kalau pohon pisang dibelakang rumah berbuah, jantungnya akan nenek panen dan diolah lagi menjadi sayur bumbunya lumayan banyak, ada bawang merah 5 biji, bawang putih 3 biji, merica sesendok, ketumbar 1/4 sendok, garam kasar secukupnya tak lupa juga santan. Nenek selalu memisahkan santan bunga atau santan perasan pertama dengan santan perasan kedua dan ketiga. Santan perasan kedua dan ketiga itu dimasak bersamaan dengan jantung pisang dan segala bumbu-bumbunya. Terakhir saat sayur dirasa sudah lunak barulah santan bunga dimasukkan dalam kondisi api tungku sudah dipadamkan.
Itulah kisah nenek dan halaman. Selalu riang bermain diingatan. Begitu rinduku bertamu aku ingin bertandang. Nenek dan halaman. Mata saksi pertumbuhanku, mengenal satu per satu tetumbuhan hijau, mulai sayur dan buah. Disini aku bertumbuh sama seperti tanaman nenek.
Tetangga nenek pun ikut bertumbuh bersama tanaman nenek. Sebut saja pisang, kalau setandan matang nenek akan membagi-bagikannya kepada tetangganya, tetangga juga sering memetik kemangi, serai ataupun daun kelor. Aku lupa yang menjadi pagar dirumah nenek itu sayur cangkok manis. Paling laris dicari oleh tetangga saat musim hampir lebaran sebagai bahan pembuatan tape ketan.
0 Komentar