Ad Code

Responsive Advertisement

Syukur hidup didalam tubuh hiburan


Tergiang di ingatan. Dulu aku pernah meminta izin kepada Ummiku untuk keluar ke permandian galesong yang terletak di kabupaten Takalar, temanku sengaja mengajakku karena mereka tau ajakan ke laut akan sangat sulit ku tolak bahkan bisa dihitung jari penolakkan untuk hal itu. Kali ini berbeda, Ummi melarangku, dan bertanya:

"Dulu Ummi tidak pernah melarangmu kemanapun kau mau pergi, entah itu urusan organisasi kampus bahkan luar kampus yang jumlahnya tidaklah sedikit, waktumu sangat minim dirumah, Ummi berusaha memaklumimu. Kali ini Ummi minta tolong Nak, tidak usah keluar, temani Ummi dirumah. Banyak anak yang orang tuanya titip di Ummi. Bantu Ummi urus mereka Nak."

Aku dengan kesungguhan membalas ucapan Ummiku.

"Aku butuh hiburan"

Setelah kelulusanku dari bangku kuliah, akupun meloloskan diri dari semua lembagaku kecuali lembaga dongeng yang menjadikanku hidup kembali saat melihat tawa dari anak-anak kecil korban bencana alam, anak-anak kecil korban ekonomi keluarga, anak-anak kecil korban pergaulan lingkungan. Sisa itu yang masih ku pegang karena memang sudah kuniatkan untuk selalu meluangkan waktuku untuk menemani Ummi seperti permintaan Ummi dulu. Aktivitasku hanya seputar sekolah dan rumah saat ini, aku merasa jenuh ingin sekali saja aku keluar menikmati aroma air laut dan mendengar bisingnya ombak memecah kesunyian jiwaku."

Ummi menjawab dengan cepat:
"Apakah masih kurang Al-quran sebagai penghiburmu Nak, bukankah tiap ayatnya kau baca dan semakin ingin kau baca? Bukankah itu hiburan untuk jiwamu. Bukankah ayat demi ayat yang kau berusaha hapalkan itu sebagai pengisi jiwa dan kepalamu agar terisi dan tidak kosong?. Lantas apa yang membuatmu begitu kesepian? Kalau didadamu bersemayam Al-quran tidak mungkin kau kesunyian apatah lagi butuh dihibur."

Aku diam sediam-diamnya. Bagaimana bisa Ummi memutar kembali setiap aktivitasku dan segala keinginanku. Aku diam menunduk, tidak beranjak dari sofa ruang tengah. Mencoba bertanya kepada hatiku? Apa benar aku kesepian? Jujur saat itu aku bimbang seolah ada ambisi yang merajaiku, menjadi awam gelap yang menutupi aku sebenarnya.

Ummi bergegas masuk kembali ke kamarnya dan mengulangi kata-katanya sekali lagi.

"Tidak usah berangkat, bilang sama temanmu Ummi tidak memberikan izin"

Aku kembali lagi hanya mampu mengangguk. Pelan-pelan ada rasa yang menjalar di hatiku, aku sedikit kecewa dengan keputusan Ummi, sekarang hidupku kembali lagi hanya berkutat di dalam rumah hingga menunggu azan berkumandang untuk mengarahkan adik-adik santriwati berjamaah di mesjid depan rumah. Kemudian menunggu fajar menyapa untuk mengingatkanku ada adik-adik imut yang tak jarang tingkah konyolnya menggocok perutku di SMP N 3 Makassar. Iya, hanya itulah kegiatanku.

Jam dua dini hari aku terbangun ini adalah waktu tubuhku untuk bangkit dan menyentuh air kran, aku suka dengan air di dini hari. Remang-remang ku lihat Ummiku terlelap di meja besar sambil memegang Al-quran kecil berwarna coklat susu yang masih dalam kondisi terbuka. Dengan sangat hati-hati aku menyelimuti tubuh Ummi dan menutup Al-quran tersebut. Aku segera menuju ruangan yang ditempati santriwati untuk beristirahat, aku kaget melihat ada sosok perempuan bermukena putih sedang asik mengoyang-goyangkan tubuhnya maju mundur dengan posisi kaki bersilah, mulutnya tak henti-henti mengulang ayat demi ayat. Ku amati, dan bertanya. Apakah dia senang-senang saja dengan semua itu? Bukankah itu terlalu memaksakan diri, gumanku.

Kini. Aku merasakan hal yang sama. Semalam ada suara merdu mengutarakan kata kepadaku.

"Kok belajar terus, tidak bosan apa, sesekali keluarlah menghibur diri dan hati."

Aku diam sejenak dan kembali menimpali:
"Aku belajar karena aku belum tau, aku datang ke Pare bukan untuk berlibur." (Sambil terus melangkah menuju teras rumah)

Tidak ada jatah libur dan jalan-jalan yang masuk di dalam cek list agendaku selama aku di Pare. Dan aku pun tidak merasakan kebosanan, apalagi butuh dihibur. Tidak aku tidak butuh itu. Soal-soal sudah cukup menghiburku, dan aku selalu dibuat riuh oleh kelihaian rangkaian strukturnya yang susah-susah gampang untuk ku analisa. Aku terhibur menggerjakannya. Kini aku paham apa yang dimaksud oleh Ummiku. Hanya saja aku lupa apakah setiap rangkaian huruf yang ku torehkan ke kertas, ingatan dan batinku ikut berzikir? Dan apakah setiap ayat demi ayat yang kuucapkan membuatku mengingat akan diri dan Sang Pencipta. Aku akan berucap istigfar saat salah menganalisa soal begitu juga kala aku salah tajwid dan berucap hamdalah saat berhasil menganalisa soal dan tajwidku benar mulus kuucapkan. Sejenak ku pikir perihal kata seorang member kelas bahasa kemarin

"Kita akan ingat Tuhan saat kita lagi disungguhkan hiburan".

Belajar Al-quran dan belajar pengetahuan dunia adalah jihad di jalan Tuhan. Aku mengartikan ini sebagai jalan mengenal Tuhan dan jalan kembali menemui Tuhan. Lalu bagaimana dengan hiburan selain ini? 

Noted: Ibu Uun yang memberikan Judul.


Posting Komentar

0 Komentar