Ad Code

Responsive Advertisement

Bunyian Pagi


Pagi ini, suara terindah yang ku dengar adalah sapuan dari para bapak-bapak penjaga taman kili suci. Iya! Pagi ini aku terenyuh melihat mereka, pola hidup mereka hanya fokus untuk membersihkan taman, tidak membiarkan daun secuil pun menutupi indahnya rumput hijau. Mereka merawat dan menjaga.

Dan apabila dikatakan kepada mereka, "janganlah berbuat kerusakan dibumi !" Mereka menjawab, "sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan".

Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. (Al-Baqarah: 11-12).

Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan seorang kakak tingkat sewaktu kuliah dulu. Berawal dari sekedar menjenguk hingga ajakan makan siang, selesai makan, kami pun bercakap-cakap perihal kampung inggris yang selalu menyisipkan nyaman dihati bagi setiap tamu yang datang, sungguh cerminan Tuan rumah yang baik jika ingin di teladani, lantas kami pun yang hanya tamu selalu merasa was-was berhubung rencana awal selalu berubah seiring berjalannya waktu. Dia berucap, hati-hati di pare, terlalu nyaman buat lupa akan asal dan tujuan. Aku pun menyambutnya dengan ucapan, tenang kemanapun kakiku melangkah kampung halamanku tetap dihati tiada mungkin bisa ku lupa. Ini hanya perihal mengutuhkan diri.

Kami pun berbual panjang kali lebar perihal taman, berhubung dia bertanya, sering ke taman ya, statusmu kebanyakan foto taman, bukan laut dan pantai lagi ya sekarang. Aku pun tersenyum. Bagaimana mau foto laut, disini aku terisolasi dari laut, aku hanya bisa menjangkau taman. Berbeda dengan Makassar, aku bisa ke laut kapan hari aku butuh. Iya! Semua orang yang mengenalku paham akan hatiku, kalau lagi kacau aku mencari laut, mendengarkan bising ombaknya yang memecah keciutan hatiku menghadapi hidup, bermain di kasarnya pasir sambil menatap langit yang tidak selamanya cerah seperti hidup.

Kini, taman membuatku lebih tenang, ada siulan burung-burung, bunyinya menenangkan. Aku senang belajar diantara rimbunan pohon dan warna warni bunga. Duduk menyendiri, menatap langit lagi dan lagi. Aku menemukan ketentaram jika sudah berada di taman. Sejuk rasanya. Dan aku suka dengan daun yang jatuh beserta bunga yang gugur. Sungguh mereka paham dirinya, kapan harus mekar dan menjadi pujaan, kapan harus gugur dan kembali menghidupkan. Aku suka mereka.

Aku pun bertanya kepada kakak tingkatku tersebut. Perihal pohon cabe ungu yang kini ku rawat, pohon kelor kecil dan beberapa kaktus kesukaanku, dia tahu aku senang tanaman sejak dulu, meskipun selalu sekret yang menjadi lahan garapanku, yang tanamannya tidak pernah bertahan hidup. Kurang perhatian dariku.

Cerita kami pun berlanjut ke beberapa pembahasan masa kini, dia pernah mengikuti penelitian tentang tanah, makanya dia sangat tidak suka dengan beberapa daerah di Indonesia yang semakin giat menanam pohon sawit, padahal pohon sawit itu merusak unsur hara tanah dan membuat tanah kering, berhubung semua air dan unsur hara dihisap habis-habisan oleh si pohon sawit. Lantas aku pun menyahut, pantas saja disekeliling pohon sawit tidak ada tanaman yang tumbuh. Kata kakak tingkat, iya. Sayang saja banyak dari petani kita tidak memikirkan dampak negatifnya, mereka terlalu fokus sama penghasilan jangka pendek yang tidaklah seberapa dibanding menjaga tanah. Dan mereka tidak sadar padahal mereka tahu.

Lantas aku bertanya lagi, mereka itu masuk yang merusak bumi ya kak? Kakak tingkatku berucap bisa jadi. 

Posting Komentar

0 Komentar