Pagi. Selalu menjadi awal mula perjalanan peran manusia. Bangun, yang ditandai dengan tubuh bergerak. Mandi disubuh hari agar tubuh segar dan sehat sebelum akhirnya memulai aktivitas. Memasak adalah pekerjaan yang paling ku senangi padahal dirumah aku tidak melakoni peran tersebut. Disini aku suka melakukannya.
Makan. Setelah perut terisi dengan nasi yang dicampur dengan ubi berlaukkan sayur kangkung ditambah kacang hijau dan tempe masak kecap unggulanku, perut-perut kami pun akhirnya senang bisa dipenuhi kebutuhannya guna ber-mlaku hidup hari ini. Minuman yang terbuat dari serai dan daun kelor selalu menjadi teh hangat untuk kami. Iya! Aku masih seorang nona teh meskipun tuan kopiku telah pergi berpaling meninggalkanku.
Dhuha. Memisahkan daun dari rantingnya membutuhkan banyak waktu bersebab yang kami pisahkan adalah daun kelor. Tangan yang berjumlah enam pasang bersebab satu pasangnya lagi memisahkan daun kemangi dan biji kemangi, aktivitas yang dilakukan sambil sesekali melihat layar HP guna bersenda gurau bersama upin dan ipin. Aku tidak terlalu memperhatikan layar HP bersebab jari-jariku sedang fokus memetik daun kelor. Hingga air di dalam cerek mendidih dan langsung di tumpahkan ke dalam wadah yang berisi daun kelor, kemudian didinginkan sembari kami membuat rujak sebagai kudapan menjelang siang.
Siang. Selepas buku menemani dentingan jarum jam, kembali suara pangggilan-Mu mengerakkan langkah menuju sumber air guna bersuci lalu bertemu tatap seraya memohon perlindungan dari wabah dan meminta petunjuk jalan pulang. Hampir lupa tubuh ini butuh berebah barang sejenak untuk memudahkannya bangun dipekatnya malam.
Petang. Proses pembuatan kombucha dilanjutkan sembari menggunting keripik ubi yang telah dikeringkan. Perkerjaan kami pun tidak memakan waktu yang lama. Bersebab jari-jari lincah menari dengan cepatnya. Aku terkesima dengan perempuan-perempuan ini, yang tetap bertahan ditengah wabah covid-19. Kami seolah berkata: mari bersama-sama bertahan demi keberlangsungan hidup generasi bangsa. Patut berbangga mengenal mereka. Petang selalu datang dengan jingganya.
Jingga. Kata seorang teman kepadaku: jika ingin melihat indahnya matahari tengelam kita harus bangun dari pagi dan mempersiapkan diri menyambut senja, dengan begitu keindahan akan sunset pun terpatri di hati. Meskipun warna orange hanya menemui kita sebentar, namun yang ku tahu pasti senja selalu datang tepat waktu dan selalu ada tidak pernah meninggalkan.
Pare. Dipenghujung maret tahun 2020 memberi warna berbeda dihidupku. Aku berkenalan dengan duka yang datang silih berganti, aku diuji dengan kelemahanku yaitu hatiku sendiri. Diberi kesakitan berupa kehilangan, jatuh cinta, dan bertahan. Disatu bulan yang sama aku juga belajar meluruhkan ego dan ber-mlaku hidup sesederhana mungkin. Kalau saja kakekku masih hidup aku bisa pastikan dia akan sangat bahagia melihatku tumbuh seperti ini.
Pare, Maret dan Covid-19 tahun 2020 telah membuat hatiku tercabik-cabik dengan segala perlakuannya. Paling terasa adalah kebudayaan kami para members camp smart.ilc, sebut saja kebiasaan makan bersama dalam satu baki atau nampang kini tidak lagi bisa diterapkan berhubung harus membiasakan berjarak, bukan karena kami terkontaminasi virus hanya saja kami takut akan fitnah masyarakat. Diam-diam aku merindukan suasana springwati yang dulu, bisa tertawa lepas, minum dari gelas yang sama, tidur saling berhimpitan dan tentunya makan selalu berganti gigitan. Kini, kami harus berjarak satu meter.
Pare, 31 Maret 2020
0 Komentar