Ad Code

Responsive Advertisement

Koma


Hidup tidak melulu perihal berkata, berjalan, dan bergerak. Ada tempo hidup harus dirayakan tanpa bising kata, duduk dan berdiam diri. Sama halnya dalam sebuah kalimat dimana koma selalu tidak menjadi perhatian padahal ia nya sangat membantu dan memperjelas maksud dari makna yang ingin disampaikan.

Aku tertarik dengan koma di dalam sebuah bacaan meskipun dulu tidak. Hingga tak jarang aku pun membaca dengan sangat cepat seperti sedang dikejar anjing sampai pada akhirnya ngosngosan dan aku pun menyakini bahwa koma ada fungsinya. Perihal koma yang bentuknya mirip seperti telinga manusia bukan telinga kali kucingku. Telinga yang mampu mendengarkan bukan sekedar dengar menjadikan manusia secara tidak langsung mengambil jeda berhenti berkata dari semua isi kepala dan hatinya memberi ruang untuk manusia lain menjadi manusia juga. Dengan begitu ia pun akan menjadi manusia.

Lantas, apa kabar dengan manusia yang tidak mampu mendengarkan dalam hal ini mendengarkan menggunakan seluruh hatinya bukan sekedar telinga atau daging milik tubuh. Manusia selalu lupa bahwa telinga diciptakan dengan dua lubang digunakan untuk mendengarkan orang lain dan diri sendiri, kini dipaksa pekak demi mulut tidak bisu. Alhasil mengali satu lubang dan menimbung dua lubang. Manusia sekarang banyak tidak sadar melakukannya.

Koma dan telinga menjadi bacaan sekaligus tanda untuk dibaca oleh manusia yang menyakini bahwa iqra itu nyata seruan dari Tuhannya. Koma dibutuhkan untuk merangkai kata menjadikannya sempurna sebagai kalimat begitu pun telinga yang merupakan proses menjadi manusia.

Koma. Punya beberapa makna, pertama sebagai tanda baca berhenti sejenak dan kedua sebagai tanda tidak sadar dan tidak mampu memberikan reaksi terhadap suatu rangsangan apapun. Telinga pun bisa mewujud seperti koma. Sisa manusia memilih ingin memberikan fungsi apa untuk telinganya.

Posting Komentar

0 Komentar