Yasin selesai kini giliran speech yang menurutku adalah hal yang paling aku takuti karena harus berdiri di depan para pembelajar bahasa, berbagi sedikit cerita, entah itu suka dan duka. Bagiku hal tersebut adalah hal yang menggikis banyak tenaga hingga menghasilkan keringat dingin.
Berdiri dan bercerita menggunakan bahasa inggris sedikit demi sedikit membuatku jatuh cinta karena aku tertantang dibuatnya. Aku semakin dibuat tidak mampu berkutik akan kata yang di patenkan di oxford. Ceritaku mengalir dan membuat grammarku hilang arah. Ah! Betapa aku pernah begitu sombong dengan mengatasnamakan cinta kepada susunan kata tanpa sadar bahwa aku masih jauh dari kata mampu untuk mengaplikasikannya di kehidupan nyata yang menjadikanku manusia.
Malam ini aku belajar betapa sulitnya diam ketika kita sudah mampu berbicara apalagi kalau kita sudah berpikir bahwa kita hebat dalam bertutur. Seolah-olah orang yang sedang berbicara diatas atau didepan adalah sampah yang tidak layak untuk didengarkan hanya karena mereka bercerita yang bukan dikutip dari buku referensi manapun. Kita hanya tertarik mendengarkan sesuatu yang berbau teori yang menurut sebagian kita memandangnya sebagai penjabaran intelektual.
Aku juga belajar betapa sulitnya menahan kala kita sudah mampu mengungkapkan meskipun kita tahu itu benar. Sungguh keakuan yang tertanam di dalam diri sulit untuk dicabut. Tentang persoalan merasa pintar dan mampu, memang sulit dipuasakan. Kita dibuat lupa bahwa di tempat kita sinau tidak hanya kita yang memiliki otak dan pikiran apatah lagi pengalaman.
Diam. Kali ini aku baru paham ternyata diam itu sulit sekali. Bukan hal mudah buat ego orang-orang yang merasa mampu. Diam adalah musuh paling sulit dikalahkan, baru kali ini aku tahu diam itu sangat dahsyat. Malam ini aku dan mereka tidak bisa diam dalam artian puasa. Dan korelasi dari ketidakmampuan kita untuk diam berdampak kepada ketidakmampuan kita dalam menerima. Menepikan saran dari orang-orang yang kita anggap hanya butiran nutrisari dengan dalih berpedoman kepada satu kitab yang maha benar dan maha tahu.
Sadarlah sebelum kita benar-benar lupa ingatan bahwa kita hanyalah makhluk tempatnya khilaf dan salah, memang sepatutnya kita dikoreksi dan dibenarkan bukan ngotot menantang dan bertahan dengan mempertontonkan ketinggian hati.
Berlajar diam. Tuhan saja mampu Diam dengan semua ulah kita.
0 Komentar