Ad Code

Responsive Advertisement

Perihal Kata dan Rasa



Cahaya jingga tidak menyapa petangku hanya warna abu-abu yang begitu setia menemani beserta rintiknya. Seolah tau semua rasa sesak yang membuncah. Aku suka dengan bisingnya yang mampu mengalahkan seluruh serakan kata hasil ucapan para pemikir. Mungkin mereka lupa akan kekuatan ucap yang memiliki dua kemampuan yaitu membunuh dan menumbuhkan.

Kata yang terucap tidak akan mampu lagi ditarik itulah sebabnya orang tua sering menasehati untuk berpikir dulu sebelum berucap, hanya saja sekarang berucap tanpa berpikir panjang dan dalam begitu enteng tersalurkan sesuai keinginan hasrat sang empu mulut dan otak. Padahal kata yang terlontar tak akan menjadi milik mereka lagi. Sekali lagi mereka lupa akan kekuatan kata.

Kata dengan segala makna yang dimilikinya mampu menghidupkan jiwa yang mati dengan hentakan nada yang tertuliskan dan diucapkan. Meski hanya mengandung lima huruf satu kata tanpa rangkaian frase apalagi kalimat, tak jarang mampu mengubah hidup seseorang. Kini, banyak dari makhluk bahasa yang luput dari memikirkan ini.

Kata dengan kekuatan sekaligus kelemahannya jika para penggunanya lalai akan menjadi senjata mematikan untuk setiap hati, jangan heran jika kini banyak manusia hidup tanpa hati meskipun memiliki otak yang encer. Agaknya sang penutur bisa merefleksi diri melihat kembali ke belakang tentang perbuatan mereka, jika ingin.

Petang dengan kata-katanya yang kini berbahagia. Mengudara tanpa mengenal jarak bersembang diantara lini gawai bukan persoalan serius jika memang keinginan berkabar itu ada dan ditekadkan. Konon, ini perihal kata dan sekali lagi mereka lupa di atas kata ada rasa.

Posting Komentar

0 Komentar