Ad Code

Responsive Advertisement

Pagi dan Cinta Nenek



Anyelir tidak kehilangan ramai pagi, para kaki penuh ambisi berlalu lalang guna berburu santapan murah dan tentu saja mampu memanjakan lidah. Aku pun tidak ingin ketinggalan. Senandung lirih sudah sejak subuh di lagukan oleh lambung karet milikku meminta untuk segera dipekerjakan. Alhasil aku pun memilih mencari sesuatu yang bisa ku raih dengan modal lima ribu rupiah jatah makan pagi agar uang bulanan bisa tetap cukup menghidupiku hingga akhir aku bertapa di bumi Pare Jawa Timur.

Pecel Ibu Sri bertempat di jalan Flamboyan tepatnya berada di belakang kursusan Test muncul di mindaku, tanpa berpikir ulang segera ku raih si ungu yang manis warisan mbah Afifah anak Jakarta Selatan yang kini sedang mencari jati dirinya. Ku kayuh dengan sedikit terburu-buru takut kalau-kalau aku tidak kebagian perkedel jagung andalan. Sesampaiku segera aku pun memarkir si ungu dan memesan pecel berlaukkan dua perkedel, kangkung dan toge, saus kacang tanah, dan terakhir sentuhan kerupuk penyet kesukaanku pun mulai ditaburkan kemudian Bude membungkusnya dengan sangat apik, untuk menjaga tetap higienis Bude merekatkannya menggunakan karet warna merah jambu. Bude memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam dan menyerahkan kepadaku segera akupun menyodorkan uang yang sedari tadi ku genggam.

Pecel pagi selalu menjadi alasan untuk menegakkan tubuhku saat bergulat memahami susunan kata, kelas kata, karakter kata dan tentu saja fungsi dari kata tersebut. Setiap hari aku menemukan hal baru dalam memahaminya meskipun tidak pernah luput dari kebinggungan yang tak jarang membuatku berlutut seraya menangis kesakitan. Aku tetap ingin memahaminya karena aku terpesona dengan segala aroma tentang kata. Jatuh cinta memang selalu tidak memiliki dalil tentang kenapa dan mengapa, yang aku tau aku ingin selalu memahaminya tidak peduli sesulit apapun jalan yang harus ku tempuh.

Pecel selesai ku santap lambungku girang bukan kepalang karena mampu menjalankan perannya. Segera aku pun bermesra dengan segala rangkaian indah. Aktivitas yang tidak pernah membuatku lelah dan jenuh. Dari sini aku belajar untuk mencintai rutinitas yang sama persis setiap harinya, merangkai, menganalisa, mengartikan dan memahaminya selalu dan akan sama setiap harinya. Dulu aku pernah tersentil dengan kegiatan nenek yang setiap pagi hanya menjadi tukang pembuat kopi untuk kakek dan itu sudah berlanjut sejak aku belum direncanakan oleh kedua orang tuaku.

"Apakah nenek tidak bosan? Apakah nenek bahagia? Kenapa nenek suka melakukan hal yang monoton? Kenapa nenek bisa begitu konsisten dalam membuat kopi? Bagaimana nenek bisa menjalani hari-harinya tanpa sedikit pun mengeluh?"

Kini, sejak aku berkenalan dengan susunan kata atau panggilan sayangku kepadanya Tuan G, aku menemukan jawaban dari semua pertanyaanku tentang nenek dan paginya. Iya! nenek melakukannya karena cinta yang saban hari menjadi roh dalam hidupnya. Jatuh cinta memang anugerah dari Tuhan.



Posting Komentar

0 Komentar