Ad Code

Responsive Advertisement

Anak Yatim: Ciptaan kita


"Bukankah dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungi (mu).
Maka terhadap anak yatim janganlah engkau sewenang-wenang." (QS. Ad-Dhuha: 6 dan 9)

Sepagi ini aku dikejutkan dengan ketukan pintu dari Astral. Dia datang guna berdialog tentang kesadaran dan ketidaksadaran yang tidak disadari oleh sebagian kita. Panjang kali lebar diskusi pagi ini. Mentari muncul mengingatkanku ada anak baru yang harus ku buatkan rumah lebih besar karena pertumbuhannya kini sudah semakin besar. Iya, okra-okra hasil benihanku pun berpindah dari tempat persemaiannya. Aku meminta Astral untuk menemaniku mencari polibag sebagai rumah baru okra.

Polibag terisi dengan tanah yang tidak terlalu penuh, hanya setengah dari ukuran polibag lalu ku tata di halaman depan first story satu per satu ku angkat dari halaman belakang berjumlah delapan belas polibag yang siap untuk dijadikan rumah baru buat okra. Segera tanpa menunggu lama aku pun melakukan ritual pindah rumah kepada anak-anakku. Hari ini dan seterusnya okra sudah memiliki rumah, okra akan hidup sendiri.

Sendiri bukan berarti yatim piatu, camkan. Sekarang aku paham bahwa penanam memiliki tanggungjawab yang istimewa. Menanam tidak hanya sampai kepada menancapkan akar ke tanah, ada beberapa tahapan lagi yang membutuhkan kekonsistenan dalam bergerak. Mulai dari menyiram, memupuk, mencabuti rumput, menambah tanah kalau-kalau akar sudah naik ke permukaan, berulang terus hingga bunga menampakkan diri berganti menjadi bakal buah yang membutuhkan perhatian lebih hingga matang mengeluarkan aroma wangi semerbak. Barulah panen menjadi hak kita.

Agustus di 2020 membuat tanaman sangat akrab berumah. Segala wadah digunakan dengan harapan akar mampu untuk terus hidup. Mulai dari bertanam menggunakan media air hingga tanah yang dicampur dengan berbagai unsur hara tak lain hanya demi hasil yang memuaskan. Awal yang selalu menunggu akhir. Banyak yang lupa ada perjalanan panjang setelah awal untuk menuju akhir, banyak tanaman menjadi yatim karena ketidaksabaran dari penanam.

Rutinitas menyiram, memupuk, dan lagi-lagi menyeringai rumput terlalu membosankan. Tidak ada tantangan yang ada tumpukkan beban, kita lupa menanam ikhlas sebelum menanam bibit tanaman. Butuh berpuluh pagi hanya demi melihat bunga dari tanaman bibit, butuh puluhan rumput yang dicabut demi menjaga nutrisi calon buah. Ah! Pekerjaan macam apa ini, hingga tak jarang kita pun malas melakukannya dengan catatan masih kekeh mengharapkan hasil yang melimpah ruah. Manusia memang tempatnya lupa dan ngeyel.

Rasa. Sering perasaan kita merasa bangga saat memetik hasil dari bibit yang kita tanam, konon. Berkata dengan angkuh bahwa yang dimakan adalah hasil tanaman tangan sendiri. Wow! Ingin rasanya aku berteriuk untuk mengingatkan akan kelupaan yang disengaja. Ingat, kita hanya menciptakan yatim jika hanya menanam tanpa merawat. Berapa banyak lagi yatim yang ingin kita ciptakan?

Anak dilahirkan kemudian dirawat bukan dilahirkan kemudian ditelantarkan. Kalau hanya lahir tanpa dirawat itu namanya yatim. Apakah kita pernah berpikir bahwa bibit-bibit tersebut adalah yatim yang dimaksud oleh ayat dalam kitab kita, jika kita hanya menanamnya.

Selami baik-baik setiap kata yang terangkai oleh bacaan kita. Ingat Tuhan meminta kita untuk Iqra dan Tuhan tidak menulis dalam huruf latin. 

Posting Komentar

0 Komentar