Duh. Hujan. Lagi-lagi gerutu bibirku. Kaos kakiku basah. Buku-buku basah. Tubuhku basah dan kedinginan. Aku geram. Hujan turun tidak pada waktunya. Kenapa tidak turun saat aku sudah dirumah saja. Begitulah kisah kita kebanyakan. Terlebih aku juga.
Pare. Dengan cuacanya yang tidak bisa kutebak. Sudah seperti perempuan saja pikirku. Hujan datang sesuka hatinya, panas apalagi, main pergi tanpa pamit bergantikan mendung, persis seperti perasaan perempuan yang lagi sayang-sayangnya kemudian ditinggal pergi.
Aku suka hujan, membantuku menangis sejadi-jadinya tanpa harus ketahuan. Aku juga suka bunyi hujan bertemu atap yang bisingnya membawaku menggali kenangan. Karena kenangan adalah satu-satunya kisah yang bisa ku ulang meski sosoknya tiada nyata didepanku dan kisah itu paling membahagiakan. Hanya, kadang aku lupa menyukai itu tidak harus bersentuhan atau bersatu seperti aku dan hujan. Maka tak jarang akupun menghindari hujan, menepi, berteduh dan hanya ingin memandangi dari balik ketidaksukaanku, meski aku harus berdusta.
Kabar pagi ini. Aku meyaksikan Ibu kota tenggelam, bukan, maksudku rumah-rumah berlantai tanah itu terendam, bangunan tinggi tidak masuk list air banjir. Segala sampah banyak bertamu kalau menurutku datang menyapa, mengabari bahwa mereka lagi ramai, karena dibuang oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab. Lumpur bersuka cita berlantai beratap. Perabotan merasa dirusaki oleh air, kini air dipersalahkan, dimaki, dihina bahkan dibenci. Sungguh malang nasibnya.
02 Januari 2020 Kompas mengabari hujan lebat mengguyur sebagian Indonesia . Dimulai saat kembang api ingin bermekaran sebagai tanda tahun berganti hingga siangnya. Sesuai data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Humas Polda Metro Jaya, tercatat 24 orang tewas akibat terseret arus banjir, tersetrum listrik, dan terkena longsor. Ke-24 korban itu ialah 10 orang dari Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang, 12 orang asal Bogor, dan 2 orang dari Labuhan Batu Utara. Tiga korban lain di Labuhan Batu Utara hingga rabu malam masih hilang.
Selepas cuaca yang tidak mungkin mereka tuntut, penduduk kota pun mencaci dengan sepuas hati, menyalahkan dan menuding pihak tertentu untuk bertanggung jawab dengan kondisi yang sedang mereka alami. Gubernur pun tidak lepas dari objek yang menjadi sorotan untuk disalah-salahkan.
Di sosial mediaku muncul akun yang sangat lucu, berkata kepada mereka yang mengeluh tentang banjir yang melanda Jalarta. Akun tersebut berkata: pergi saja dari Jakarta kalau memang tidak suka, jangan salahkan hujan dan banjir. Toh, Jakarta awalnya adalah sebuah rawa, nah rawa itu tempatnya air. Tempat air ditempati tinggal, jadi jangan marah kalau airnya datang. Karena memang tempatnya. Seketika aku tersenyum. Akun ini cerdas, hanya saja aku juga harus membuktikan apakah kata-katanya itu benar adanya. Dan aku belum sempat mencari referensi soal itu.
Pare. Dengan cuacanya yang tidak bisa kutebak. Sudah seperti perempuan saja pikirku. Hujan datang sesuka hatinya, panas apalagi, main pergi tanpa pamit bergantikan mendung, persis seperti perasaan perempuan yang lagi sayang-sayangnya kemudian ditinggal pergi.
Aku suka hujan, membantuku menangis sejadi-jadinya tanpa harus ketahuan. Aku juga suka bunyi hujan bertemu atap yang bisingnya membawaku menggali kenangan. Karena kenangan adalah satu-satunya kisah yang bisa ku ulang meski sosoknya tiada nyata didepanku dan kisah itu paling membahagiakan. Hanya, kadang aku lupa menyukai itu tidak harus bersentuhan atau bersatu seperti aku dan hujan. Maka tak jarang akupun menghindari hujan, menepi, berteduh dan hanya ingin memandangi dari balik ketidaksukaanku, meski aku harus berdusta.
Kabar pagi ini. Aku meyaksikan Ibu kota tenggelam, bukan, maksudku rumah-rumah berlantai tanah itu terendam, bangunan tinggi tidak masuk list air banjir. Segala sampah banyak bertamu kalau menurutku datang menyapa, mengabari bahwa mereka lagi ramai, karena dibuang oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab. Lumpur bersuka cita berlantai beratap. Perabotan merasa dirusaki oleh air, kini air dipersalahkan, dimaki, dihina bahkan dibenci. Sungguh malang nasibnya.
02 Januari 2020 Kompas mengabari hujan lebat mengguyur sebagian Indonesia . Dimulai saat kembang api ingin bermekaran sebagai tanda tahun berganti hingga siangnya. Sesuai data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Humas Polda Metro Jaya, tercatat 24 orang tewas akibat terseret arus banjir, tersetrum listrik, dan terkena longsor. Ke-24 korban itu ialah 10 orang dari Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang, 12 orang asal Bogor, dan 2 orang dari Labuhan Batu Utara. Tiga korban lain di Labuhan Batu Utara hingga rabu malam masih hilang.
Selepas cuaca yang tidak mungkin mereka tuntut, penduduk kota pun mencaci dengan sepuas hati, menyalahkan dan menuding pihak tertentu untuk bertanggung jawab dengan kondisi yang sedang mereka alami. Gubernur pun tidak lepas dari objek yang menjadi sorotan untuk disalah-salahkan.
Di sosial mediaku muncul akun yang sangat lucu, berkata kepada mereka yang mengeluh tentang banjir yang melanda Jalarta. Akun tersebut berkata: pergi saja dari Jakarta kalau memang tidak suka, jangan salahkan hujan dan banjir. Toh, Jakarta awalnya adalah sebuah rawa, nah rawa itu tempatnya air. Tempat air ditempati tinggal, jadi jangan marah kalau airnya datang. Karena memang tempatnya. Seketika aku tersenyum. Akun ini cerdas, hanya saja aku juga harus membuktikan apakah kata-katanya itu benar adanya. Dan aku belum sempat mencari referensi soal itu.
02 Januari 2020
0 Komentar