Pagi ini aku berjalan cukup jauh, diam memandangi lukisan alam meskipun sedikit tertutupi kabut tebal hanya saja keindahannya tetap berhasil mengalihkan duniaku. Alam selalu bisa membuatku jatuh cinta seperti puisi pagimu. Dan kali ini kau menjelma teman imajiku penganti seduhan teh hangat, membincang ciptaan Tuhan.
Perjalananku menyusuri jalan panjang menuju pondok tidak terasa bersebab kau selalu mengajakku bersembang tentang kita, kau hadir sebagai teman imaji pagiku. Ah! Aku terlalu merindukanmu. Aku pun tiba dengan beberapa galon air kosong, satu per satu galon antri untuk diisi. Sambil menunggu aku pun berjalan santai melihat tetumbuhan yang terawat dengan baik disekitar pondok. Sembari aku berjalan ada seorang bapak sedang asik menyiram tanaman. Bibirnya senantiasa senyum begitu sejuk seperti air yang muncrat dari selang ditangannya.
Hatiku tersentuh dan kini kepalaku mulai berputar memproses nalar. Air merupakan unsur terpenting bagi tumbuhan, tanah, hewan bahkan manusia, seluruh elemen kehidupan membutuhkannya. Air mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah kemudian kembali berkumpul di laut dan akan kembali ke atas (diuapkan) kemudian jatuh lagi. Sungguh suatu proses yang begitu panjang hingga memiliki rumusnya sendiri yaitu siklus hujan. Ada yang menarik pikirku, air melewati banyak sekali tempaan sebelum akhirnya menjadi mata air sebagai unsur pembentuk kehidupan paling penting.
Mata. Pintu hati seorang manusia yang memancarkan segala rasa didada, darinya segalanya bisa berubah. Mata yang berair meluluhkan amarah, mata yang melotot membakar jiwa, mata yang sendu menghadirkan cinta. Pantulan diri seseorang berasal dari tatap, bersebab aliran rasa terpancar oleh bola mata. Layaknya mata air yang memancarkan kehidupan.
Seorang manusia akan menjadi sumber penghidupan bagi manusia yang lainnya dengan syarat telah memiliki karakter air. Memberi, mengalir dan terus bergerak turun demi mlaku hidup makhluk banyak. Dipukul dengan palu kehidupan agar mewujud suluh penerang jalan pulang.
Air mata akan selalu menjadi teman paling setia tiap kali dicambuk kesakitan. Sebagai penyejuk amarah yang membuncah, sebagai pemadan api kebencian yang menyala, sebagai pembasmi dendam yang berkarat dan sebagai penyubur kegersangan hati yang tandus. Mata air dan air mata tidaklah jauh berbeda. Selamat berair mata agar kelak bisa menjadi mata air.
0 Komentar