Ka.rang n batu kapur di laut yang terjadi dari zat yang dikeluarkan oleh binatang kecil jenis anthozoa (tidak bertulang punggung); batuan organik sebagai tempat tinggal binatang karang. Ka.rang v susun; rangkai; jalin. Ka.rang n tempat kediaman; tempat berkumpul. Pe.ka.rang.an n 1 tanah sekitar rumah; halaman rumah; 2 tanah yang disiapkan untuk tempat tinggal.
Pekarangan yang memiliki kata dasar karang yang memiliki dua makna. Kalau kita lihat dari kata benda, berarti batuan karang yang ada dilautan, begitu kokoh meskipun dipukul ombak berulang kali tanpa henti, dengan ketegarannya dia memanjakan segala mata pencari keindahan yang terkadang luput terbaca. Karang yang berkelas kata kerja bermakna menyusun, merangkai atau menjalin. Banyak dari kita yang sengaja menyusun tanaman berbunga hingga membentuk taman, saat bertaman keakraban kita pun terjalin, banyak cakap yang lahir dari tanah, daun bahkan bunga sekaligus meminta kita untuk menjadi pengamat yang mahir membaca bahasa Tuhan. Layaknya manusia yang memiliki masa bertumbuh di bumi ini, tanaman pun memiliki masa hidup hijau sebelum menjelma kuning dan gugur mengibahkan diri memupuk tanaman lain yang kelak mewujud pohon tempat memohon.
Rumah dengan pekarangan yang luas bukanlah hal yang mewah di kampungku. Rumah nenek memiliki banyak sekali tumbuhan yang sengaja ditanam di pekarangan. Ada pohon kelapa, pohon pisang, pohon mangga, pohon kelor, pohon singkong yang berjejer rapi membentuk pola pagar, ada tanaman empon-empon, serai, terong bulat, daun siri yang sengaja dililitkan ditiang tangga, seledri yang digantung seolah bunga anggrek, belum lagi sedikit bunga-bunga yang ditata disamping jembatan kecil penghubung rumah nenek dan jalan raya poros yang terpisahkan oleh kali irigasi sawah, konon seperti itu.
Nenek akan menyerap cahaya mentari pagi dengan berpanen segala yang berbuah dan matang kemudian disantap oleh lidah-lidah yang senang menari-nari sebelum berangkat berkebun. Kemudiab jari-jari nenek begitu lihai mencabuti semua rerumputan yang subur, begitu setiap harinya hingga kini pun masih sama. Pekarangan yang bersih dan rapi terolah nyata. Meskipun kini nenek tidak akan lagi berburu dengan tingginya matahari bersebab tidak ada lagi kakek yang berpagi kebun.
Aku dibesarkan oleh nenek dan Alm.kakek lima belas tahun silam. Bahkan julukanku adalah anak nenek. Tingkahku yang nakal, keras kepala, banyak mau mampu dikalahkan oleh sikap nenek yang sabar dalam menghadapiku. Aku beritahukan satu kekuranganku. Aku luluh dengan kesabaran sekaligus aku juga benci dihadapkan dengan kesabaran. Nenek berpesan: belajarlah sabar dari para penanam. Kini baru aku tahu maksud nenek, setelah aku bersentuhan langsung dengan tanah dan bibit apatah lagi jika menunggu masa panen. Jiwa konsisten yang tidak boleh bosan menyadarkanku bahwa menjadi sabar memang harus dipelajari dari penanam.
Hati nenek lapang, selapang pekarangan rumahnya. Hati nenek bersih, sebersih pekarangannya. Hati nenek yang dipenuhi benih cinta bertunaskan kasih sayang terpatri tanggung jawab terpancar layaknya pekarangannya yang mampu menumbuhkan berpuluh-puluh pohon berbuah rimbun nan manis, penyejuk mata sekaligus penggisi perut dengan segala manfaat yang sengaja Tuhan titip agar bukan tanah yang langsung kita kunyah. Aku ingat kata Ibu di kelas bahasa. Pekarangan mencerminkan hati sang pemiliknya.
Pekarangan yang memiliki kata dasar karang yang memiliki dua makna. Kalau kita lihat dari kata benda, berarti batuan karang yang ada dilautan, begitu kokoh meskipun dipukul ombak berulang kali tanpa henti, dengan ketegarannya dia memanjakan segala mata pencari keindahan yang terkadang luput terbaca. Karang yang berkelas kata kerja bermakna menyusun, merangkai atau menjalin. Banyak dari kita yang sengaja menyusun tanaman berbunga hingga membentuk taman, saat bertaman keakraban kita pun terjalin, banyak cakap yang lahir dari tanah, daun bahkan bunga sekaligus meminta kita untuk menjadi pengamat yang mahir membaca bahasa Tuhan. Layaknya manusia yang memiliki masa bertumbuh di bumi ini, tanaman pun memiliki masa hidup hijau sebelum menjelma kuning dan gugur mengibahkan diri memupuk tanaman lain yang kelak mewujud pohon tempat memohon.
Rumah dengan pekarangan yang luas bukanlah hal yang mewah di kampungku. Rumah nenek memiliki banyak sekali tumbuhan yang sengaja ditanam di pekarangan. Ada pohon kelapa, pohon pisang, pohon mangga, pohon kelor, pohon singkong yang berjejer rapi membentuk pola pagar, ada tanaman empon-empon, serai, terong bulat, daun siri yang sengaja dililitkan ditiang tangga, seledri yang digantung seolah bunga anggrek, belum lagi sedikit bunga-bunga yang ditata disamping jembatan kecil penghubung rumah nenek dan jalan raya poros yang terpisahkan oleh kali irigasi sawah, konon seperti itu.
Nenek akan menyerap cahaya mentari pagi dengan berpanen segala yang berbuah dan matang kemudian disantap oleh lidah-lidah yang senang menari-nari sebelum berangkat berkebun. Kemudiab jari-jari nenek begitu lihai mencabuti semua rerumputan yang subur, begitu setiap harinya hingga kini pun masih sama. Pekarangan yang bersih dan rapi terolah nyata. Meskipun kini nenek tidak akan lagi berburu dengan tingginya matahari bersebab tidak ada lagi kakek yang berpagi kebun.
Aku dibesarkan oleh nenek dan Alm.kakek lima belas tahun silam. Bahkan julukanku adalah anak nenek. Tingkahku yang nakal, keras kepala, banyak mau mampu dikalahkan oleh sikap nenek yang sabar dalam menghadapiku. Aku beritahukan satu kekuranganku. Aku luluh dengan kesabaran sekaligus aku juga benci dihadapkan dengan kesabaran. Nenek berpesan: belajarlah sabar dari para penanam. Kini baru aku tahu maksud nenek, setelah aku bersentuhan langsung dengan tanah dan bibit apatah lagi jika menunggu masa panen. Jiwa konsisten yang tidak boleh bosan menyadarkanku bahwa menjadi sabar memang harus dipelajari dari penanam.
Hati nenek lapang, selapang pekarangan rumahnya. Hati nenek bersih, sebersih pekarangannya. Hati nenek yang dipenuhi benih cinta bertunaskan kasih sayang terpatri tanggung jawab terpancar layaknya pekarangannya yang mampu menumbuhkan berpuluh-puluh pohon berbuah rimbun nan manis, penyejuk mata sekaligus penggisi perut dengan segala manfaat yang sengaja Tuhan titip agar bukan tanah yang langsung kita kunyah. Aku ingat kata Ibu di kelas bahasa. Pekarangan mencerminkan hati sang pemiliknya.
0 Komentar