Pagi merangkai bawang merah, bawang putih, merica, lengkuas, serai, daun salam, dan cabe rawit membentuk menu yang tersaji dimakan siang dan juga malam. Mata mlaku sesuai fungsinya, melihat segala bumbu dan bahan yang tersedia didapur, tangan tak mau kalah langsung bergerak memetik daun lotes untuk segera direbus. Sementara merebus, adonan jamur dan kecamba pun diracik hingga layak digoreng mewujud perkedel jamur. Iya! Daun lotes kuah santan dan perkedel jamur mengambil bagian terdepan di piringku.

Bumbu dapur menjadi guruku hari ini. Mengulangi kegiatan yang sama hampir disetiap harinya, menggupas kulit bawang, mencuci, mengulek dan menumisnya berulang disetiap paginya, monoton bukan? Tiba-tiba aku mengingat tangan-tangan perempuan hebat yang selalu bekerja dibalik layar penghidupan. "Mereka pasti memiliki cinta yang besar terhadap keluarganya" batinku bergumam.

Melakoni peran memasak bukanlah hal yang ciki-ciki bumbum seperti slogan Pak Oso di kelas Elementary Grammar tahun kemarin yang bermakna mudah. Olah rasa berperan penting disini. Aku pernah memasak kala itu aku sedang tidak enak hati, lagi gelisah dan sangat lelah. Akhirnya hasil racikan bumbu yang sama dengan takaran biasanya hilang rasa. Dari situ aku belajar bahwa hati harus hadir didalam setiap sajian hidang. Sedikit demi sedikit hatiku mulai terasa hidup bernadikan dapur.

Egoku ditantang untuk mengalah saat daun lotes begitu angkuhnya, harus direbus selama dua jam sebelum akhirnya mengoyang lidah para pemakan. Kesetiaan dapat diukur lewat konsistensi disetiap ulekan pagi bersebab rasa bosan adalah hal yang sangat memungkinkan hadir dipagi-pagi yang sedang berpuisi. Olah hati jelas terlatih didapur setiap rumah. Sungguh masih sepagi ini aku sudah dibuat mengagumi sosok-sosok perempuan.

Hati pun kini mahir merasa, aku menemukan hatiku ketika berdapur. Bukan berarti olah pikir boleh ongkang-ongkang kaki, tidak! Pikiran tetap bekerja, memilah segala bahan yang masih bisa diolah menjadi segala macam kudapan. Sungguh kreatif bukan? Berdapur membuatku belajar keras, mulai dari memikirkan harus mengolah apa dan bagaimana cara mengolahnya. Waduh! Sudah seperti pertanyaan di bab pertama rumusan masalah ya. Berpikir dan memilih bahan adalah referensi untuk bab satu sampai tiga, mlaku berdapur masuk dalam bab empat dan saat kita bersantap itulah bab lima. Akhirnya ujian tutup pun digelar dimeja makan oleh lidah-lidah mereka.

Ulekan seolah berkata kepadaku, untuk belajar lebih banyak darinya. Panci-panci pun demikian. Ada banyak pengetahuan yang akan mereka jabarkan ketika kita mau mendekat dan membuka diri datang merendah guna belajar. Hati pun kembali terlatih akan merasa.