Segala hal yang termaktub ditubuhmu bagaikan sabda magis buatku. Sulit sekali membuyarkan hasrat menghabisimu. Aku selalu dibuat hidup jika bersamamu. Dan aku suka itu. Tidak masalah bagiku duduk diam dibilik asalkan ditanganku kau ada. Tidak masalah lapar perutku asalkan kepalaku mampu mencerna kata-kata milikmu. Tidak masalah bagiku.
Dunia terlalu besar untuk kupeluk, tidak kau. Aku bisa mengenggam erat bahkan tak ingin lepas jika itu kau. Kau tahu, aku seakan memiliki beribu mata, membelah diri, pergi kesana dan kesini hanya lewat paragraf-paragraf pendek dan panjangmu. Begitu hebatnya kau memberiku wawasan.
Sama halnya dengan dia, setiap pagi aku akan disuguhkan pemandangan hijau nan subur, ada pohon rambutan, pohon jambu, pohon ubi, kemangi, cabe ungu, lidah buaya, bunga melati dan bambu kuning yang jumlahnya tidaklah banyak. Dulu, aku sangat tidak ingin memangkas habis rumput-rumputnya. Takut akan mati dan kasian. Kini aku dipahamkan akan makna memprioritaskan dan makna pembersihan jiwa dari rerumputan dan tanaman ini. Tanaman melambangkan kehidupan akan diri. Dimana pohon sebagai tonggak utama tempat kita memohon bait-bait baik untuk kelanjutan hidup.
Mencabuti rumput yang tumbuh disekitar tanamana tanpa harus ditanam terlebih dahulu bukti bahwa tanah kita masih subur karena rumput saja mau tumbuh. Meskipun begitu harus dicabut untuk memudahkan pertumbuhan si tanaman, disini kita dibawa kepada pengambilan keputusan untuk memprioritaskan yang mana yang ingin kita tumbuhkan, ini kata-kata Ibu dikelas bahasa.
Disamping itu kita juga diajarkan untuk membersihkan rerumputan-rerumputan yang berkembangbiak dengan subur dihati kita. Entah Iri, dengki, cemburu, marah, benci, dendam, dan perasaan putus asa. Dengan begitu pohonan yang kita tanam akan tumbuh dengan baik. Hingga mampu memohon kasih kepada Tuhan.
Halaman. Selalu punya caranya dalam memberi. Selalu menyediakan, watak dari dari tanah. Sisanya kita harus bergerak, membaca dan menelaah materi apa yang sedang ia jelaskan kepada kita.
0 Komentar