Ad Code

Responsive Advertisement

Membaca di Pasar


Kurma dan madu menjadi santapan sahurku disetiap harinya. Tidak ada sebutir nasi pun yang mampu ku kunyah, perutku menolak makanan berat didini hari. Hampir lupa tetes akkate pun selalu menjadi minuman pembuka sebelum makanan lain masuk ke lambung. Ibadah wirid ku laksanakan di awal subuh berhubung program speech berlangsung setelah sholat subuh dan baca Al-Quran. Hanya saja pagi ini berbeda, aku berangkat ke pasar di gelapnya tinta cumi-cumi subuh bersama Miss Aminah.

Pasar. Riuh bersenda gurau terdengar dari ombrolan yang diikuti suara tawa halus namun terdengar. Banyak komunikasi yang terjalin diantara penjual dan pembeli. Tawar menawar pun tak luput diperankan bahkan membandingkan harga penjual yang satu dengan penjual yang kedua mewarnai kehidupan berpasar, sejujurnya hati tidak senang melihat adegan seperti ini hanya saja patut dilakukan berhubung kebutuhan harus sesuai dengan wang ditangan. Perhitungan dasar matematika pun digunakan. Mengurang, menambah, membagi dan mengalikan semua itu harus cepat melalui otak bukan lagi cakaran pulpen di atas kertas. Catatan pembelian selalu ku pegang takut kalau-kalau ada barang titipan yang luput dibelanjakan.

Penjual. Berjejer-jejeran dengan jualan yang sama dari ujung sampai ujung kembali. Hanya itu-itu saja yang mereka jual. Bawang merah, bawang putih, cabe, tomat, tahu, tempe dan sayuran. Aku melihat keceriaan diwajah mereka, meskipun aku yakin ada lelah bersemayam di dadanya karena harus selalu menjawab pertanyaan basa basi dari para calon pembeli, ada kantuk bergelantungan dikelopak matanya bersebab subuh mereka lebih cepat tiga jam dari subuh para pembeli, ada harap yang mereka titipkan jauh di ketinggian sana tempat mereka menanamkan yakin akan rezeki masing-masing. Aku membaca bab kesyukuran pagi ini.

Kesyukuran. Ditengah kondisi yang sungguh menguncang jiwa, segala macam penyakit hati mendatangiku, jenuh, bosan, iri, prasangka, sampai putus asa. Aku hampir-hampir menyerah untuk bertahan, hilang arah tujuan bahkan lupa niatan awal. Aku geram dengan semua ini, ketidakterimaanku membuncah hingga aku lupa diri bahwa aku manusia yang hanya dibekali kemampuan menata rencana bukan pembuat rencana. Aku lupa tentang aku yang maha kecil tidak memiliki daya apapun tanpa bantuan-Nya, aku lupa berserah diri setelah bertawakal, aku lupa bahwa aku memiliki Tuhan. Tanpa izin-Nya segala hal tidak akan terjadi. Dan pagi ini pasar menyadarkanku, segala usaha dan niat kembalikan lagi kepada Sang Empu-Nya dengan begitu syukur akan tumbuh didiri masing-masing kita.

Masih tentang penjual. Seorang diplomat ulung tanpa gelar kesarjanaan dari jurusan komunikasi universitas ternama. Beradu cakap disetiap hari dengan wajah yang berbeda, entah berapa rupa manusia yang telah dikenalnya dan langsung bisa mengakrabkan diri, aku iri dengan kemampuan yang sangat sulit dimiliki khayalak muda zaman sekarang. Mereka juga manusia kalkulator yang membuatku malu sendiri dengan gelarku sebagai lulusan matematika, kali ini tidak ada bilangan deferesial, bilangan euler dan bilangan himpunan fuzzy, teori sains yang cukup membuat rambut beruban sebelum waktunya. Mereka cukup ahli berhitung cepat dengan bilangan cacah dan pecahan tanpa kalkulator sedang aku yang acuh akan bilangan tersebut dibuat berpikir lebih. Tau bedanya? Aku terlalu sombong untuk tidak lagi mendalami hal sederhana yang paling mendasar, aku terlalu dibuai dengan segala kemahaagungan bernalar dan berteori dan luput mengaplikasikan pengetahuan yang ku terima. Sungguh, perbuatan tercela yang tak patut ditiru. Dan aku sangat malu.

Pembeli. Para perempuan dan lelaki pemberi kehidupan. Berkejaran dengan bunyi kokok ayam, bergerak cepat bak petir menyambar, mencari kebutuhan untuk segera dimatangkan diatas api bergas bumi. Langkah kaki mereka begitu lincah berpindah dari satu pembeli ke pembeli yang satu guna menimbang harga. Ah! Sungguh aku dibuat melahap berlembar-lembar bacaan pagi ini. Kali ini bab cinta dan tanggungjawab bagaimana bisa bertahun-tahun menjalani rutinitas yang sama disetiap paginya tanpa rasa cinta, membeli, memasak dan menghidangkan berulang seperti itu berbulan-bulan hingga puluhan tahun tanpa rasa jenuh. Cinta yang berubah menjadi tanggungjawab. Duh! Sungguh berat bacaan pagi ini.

Membaca pasar dengan segala kehidupan manusia memberikan aku pelajaran berarti hari ini. Terima kasih pasar. 

Posting Komentar

0 Komentar