Hari-hari berlalu dan kita masih saja memberi makan ego. Yah! aku juga ingin sesekali merasa menang dan menaklukkan. Selama ini aku merasa selalu mengalah, selalu lebih dulu memaafkan, selalu lebih dulu merindukan, dan selalu-selalu yang lain. Sampai hari ini, aku merasa sudah cukup untuk melakukan itu.

Kita adalah dua anak manusia yang tidak searah tapi selalu memaksakan untuk searah. Aku perempuan yang ingin menjadi istri, bukan hanya perempuan yang hanya dijadikan teman mesra-mesraan seperti anak baru gede diluaran sana. Namun, nahasnya kamu tidak mau mewujudkan keinginan tersebut. Hal itu begitu berat bagimu, hanya karena uang dan uang. Kamu bahkan belum pernah menghubungi orang tuaku tapi kamu sudah ketakutan dengan yang namanya uang "Panai" apa-apaan ini. Sangat materialistik.

Kamu begitu takut akan mengalami kemiskinan dalam mengupayakan aku. Yah! mau bagaimana lagi, aku terlahir sebagai perempuan bugis dengan segala budayanya yang sangat memberatkanmu. Andai saja dari dulu aku tidak termakan janji-janji manismu, aku tidak akan sesakit hari ini. Iya! dulu kamu berbeda, sangat berbeda, maka dari itu aku percaya akan mampu menunggumu sampai tiga tahun lamanya. Namun, seiring waktu kamu mulai berubah. Aku bukan lagi prioritasmu. 

Aku sudah tidak memiliki teman bercerita lagi, teman yang mampu mendengarkanku dengan baik dan bahagia mendengarku bercerita. Aku fokus kepadamu, hanya saja aku tidak mendapatkan hal tersebut darimu. Itu sangat menyakitkan bagiku, merasa diabaikan, merasa tidak dibutuhkan, sangat menyakitkan. 

Hari ini, aku yakin mantra terbaik yang harus aku ucapkan dan yakini adalah "tidak apa-apa" terkadang hidup hanya perlu untuk dilewati meskipun sakitnya minta ampun. "tidak apa-apa" kalau detik ini kamu sedang bergembira dengan duniamu, "tidak apa-apa" kalau memang bukan aku lagi pembangkit semangatmu. Katamu, karena aku kamu begitu semangat ingin melanjutkan studi, katamu lagi karena aku kamu mati-matian mencari uang. Tapi, rasanya yang sampai kepadaku tidak ada. Kamu melakukan itu semua karena dirimu, karena kamu ingin melakukan pembuktian kepada masa lalummu. Sungguh kasian aku. 

"Tidak apa-apa" aku akan tetap tegar menjalani hidupku seperti sedia kala, semoga saja doa-doa yang kulangitkan segera dikabulkan. Aku sungguh-sungguh ingin menjadi seorang perempuan yang dipanggil istri dan ingin memiliki bayi munggil yang kusebut Mekar, meskipun bukan bersamamu. Aku cukup tahu, seberapa persen kamu mengusahakanku. Aku mundur jika hanya menjadi pacar, karena aku ingin menjadi istri.