Sabtu malam selalu menjadi momen keluarga atau orang terkasih untuk melakukan kegiatan bersama-sama. Begitu juga dengan dua sahabat yang beda angkatan dan juga beda jurusan meskipun berada di kampus yang sama. Malam itu menjadi peristiwa untuk melepas lelah dari hirup pikuk persoalan karir, dan jodoh. Yah! dua perempuan yang mengambil kesempatan untuk menonton film Indonesia sebagai aktivitas menggisi malam-malam penuh romantis yang seharusnya bisa digunakan bersama pasangan (jika ada), mereka habiskan berdua.

Petualangan Sherina 2 diambil di tanah adat kalimantan Tengah yang mengangkat aktivitas satwa alam yang semakin langka karena keserakahan manusia. Dalam penuturan film tersebut berkisah tentang orang kaya raya yang bisa melakukan apapun sekehendaknya dengan modal uang banyak, apapun itu bahkan nyawa manusia. Namun, dua pemuda yang diperankan oleh Sherina sebagai Sherina dan Derby sebagai Sadam memperlihatkan aksi manusia yang mengerti bagaimana menjadi manusia yang berperan penting untuk menjaga alam bukan mala sebaliknya. 

Sindai, yang diperankan oleh anak perempuan kecil sebagai remaja perempuan tanah adat yang memiliki jiwa pemberani dan cinta akan lingkungannya menarik perhatian. Sebagai perempuan yang pernah tinggal dan membumi di tanah kalimantan tengah, rasanya aku hapal betul tingkah lincah dan berani anak-anak sana. Mereka begitu tangguh hidup diantara tumbuhan dan satwa, karena bagi mereka itu adalah bagian dari kehidupan yang mereka miliki. Betapa anak-anak kalimantan memberikan aku pelajaran berharga. Suatu ketika saat desa lagi banjir, aku ketakutan dan anak-anak bergembira karena akan tidur diatas lanting dan juga katil. lanting adalah kayu yang dirakit dan mengapung dipermukaan air, sedangkan katil adalah kayu yang dibuat lebih tinggi dari permukaan air di dalam rumah sehingga meskipun rumah kemasukan air, penghuni rumah masih bisa beraktivitas di dalamnya. 

Hidup di kalimantan memberitahuku bahwa alam itu begitu baik dan indah, alam tidak pernah merusak bahkan saat aku berpikir banjir itu sebuah bencana. Anak-anak bersorak dan berkata bahwa banjir itu berkah karena akan ada banyak bantuan beras yang masuk di desa yang ketika hari biasa, mereka harus menjual ikan untuk membelinya. Para orang tua bisa dengan muda membawa panenan kayu ke desa karena air naik sehingga memudahkan untuk menarik kayu menggunakan perahu kecil atau katinting dalam bahasa sana. Iya! sudut pandang menentukan segalanya, dan apa yang berhasil dilihat oleh mata adalah hasil pencarian dari hati. Mereka tidak pernah memandang alam itu merusak.

Buaya dan ular berkeliaran di sekitar mereka bukan menjadi hal yang menakutkan karena mereka sadar bahwa sungai dan hutan adalah rumah dari satwa liar tersebut. Sehingga tidak ada kegiatan teriak-teriak atau pun memburu hewan-hewan tersebut. Kecuali bagi segelintir yang menangkapnya untuk diolah menjadi santapan. Hutan kalimantan dan sungai yang darinya lahir begitu banyak kehidupan dan juga menjadi kitab kehidupan bagi mereka yang mau untuk membacanya adalah tempat yang aku syukuri ditakdirkan untuk berada di sana. Bagiku Tuhan begitu baik, dan malam sabtu ini aku dibuat begitu rindu akan tanah adat melalui film "Petualangan Sherina 2"