Suatu hari ada yang berkata kepada seorang perempuan bahwa tubuhnya menjadi lebih langsing. Perempuan tersebut pun langsung tersenyum dan memberitahukan ramuan tubuh idealnya. 

Perempuan: semua ini berkat kekasihku, beliau membantuku dalam proses menahan diri dari gorengan dan minuman manis. 

Pernyataan perempuan tersebut lantas membuat semua teman-temannya menjadi iri karena lelakinya sangat langka. Lelaki yang selalu ia sebut namanya dalam setiap kondisi kehidupannya. Namun, suatu malam yang penuh lelah dan ketakutan, ia tetap berharap bisa tenang dengan suara dari kekasihnya. Perempuan tersebut memutuskan untuk menelepon kekasihnya tersebut dengan harapan akan bisa bermanja-manja melepas lelah. 

Perempuan: "asalamualaikum sayangku"

Lelaki: "walaikumsalam sayangku"

Perempuan: "cerita dong sayang bagaimana perayaanmu bersama teman-temanmu"

Lelaki tersebut bercerita panjang lebar tentang teman-temannya yang mengira ia akan segera menikah, sampai mengira ia berhenti merokok karena cintanya kepada si perempuan. Alih-alih membenarkan hal tersebut, si lelaki membantah adanya campur tangan perempuan dalam hal motivasinya berhenti merokok, apalagi urusan menikah. Lelaki tersebut berkata proses menikah masih lama sekitar tiga tahunan lagi. 

Perempuan yang berada di balik telepon mulai berkaca-kaca, mengingat dirimu tidak sedikit pun menjadi alasan lelaki tersebut berubah, bahkan mimpinya ingin segera menemani lelakinya bertumbuh tidak mendapatkan sambutan yang hangat. Kasian! Perempuan yang malang, cinta bertepuk sebelah tangan. Cinta yang ia rawat kini berguguran mendapati kenyataan bahwa dirinya tidak sedikitpun punya pengaruh dalam setiap lini kehidupan lelakinya padahal lelaki tersebut sangat berpengaruh dalam hidupnya. 

Perempuan tersebut dibuat hancur dengan dongeng yang selalu ia ceritakan kepada orang-orang tentang mimpinya yang bersambut oleh seorang lelaki langka yang merupakan jawaban dari doa-doanya. Padahal cerita-cerita baik dari lelaki itu menyebar bagaikan aroma minyak wangi dari Arab, begitu syahdu dan lembut memasuki telinga siapapun yang mendengarkan. Perempuan tersebut dibuai dengan janji-janji yang begitu manis, begitulah nasib perempuan malang itu.

Hatinya benar-benar terluka dengan ekspektasi yang ia tanam sendiri. Setiap hari berdoa, wirid, puasa, dan bangun dengan harapan akan segera menjadi istri, kemudian menjadi ibu. Perempuan tersebut begitu ingin berada di samping lelaki yang merupakan dunianya tersebut, ia sangat mencintainya dan lelaki tersebut adalah cinta pertamanya. Namun, hari ini perempuan tersebut berjanji bahwa semua itu akan menjadi kenangan bersama mimpi-mimpinya. 

Perempuan tersebut sadar bahwa ia bukanlah orang yang pantas dan layak menemani lelaki langka itu. Bahkan baju pemberian yang sangat ia senangi yang ia beli dengan meminjam uang terlebih dahulu tidak dipakai oleh lelaki tersebut ketika sedang keluar nongkrong bersama teman-temannya, mungkin ia malu. Apalagi berharap namanya akan menjadi buah bibir lelaki langkanya di hadapan teman-temannya. Kasian! Perempuan malang yang dibohongi oleh dunianya sendiri.