Pendidikan merupakan jalan yang paling sunyi untuk ditapaki. Hiruk pikuk dunia luar terasa asing karena semua fokus dengan dedikasinya kepada buku, anak-anak, dan juga teman sejawat. Dulu, itu pandanganku akan pendidikan.
Bermain dengan bacaan yang penuh dengan dalil, aksioma, angka, dan juga huruf merupakan kehidupan yang paling menyenangkan bagiku. Sejak kecil, aku begitu rajin bermain sekolah sekolahan. Meskipun waktu kecil aku sempat berpikir ingin menjadi seorang biduan karena menyenangi Siti Nurhalizah, dan berkembang ingin menjadi pelakon karena terkagum-kagum akan kecantikan yang dipancarkan oleh Suzanna yang bagi Sebagian orang sangat menyeramkan, tapi tidak bagiku.
Yah! Sekarang aku bernyanyi di depan kelas sambil memainkan peran sebagai pendidik. Cita-citaku ternyata mewujud dengan bentuk yang jauh lebih indah dari bayanganku. Diberikan kepercayaan untuk hadir di dalam kelas untuk membersamai anak-anak mengapai mimpinya merupakan suatu nikmat luar biasa bagiku. Aku selalu punya tujuan setiap kali mata diizinkan untuk terbuka lagi, aku tahu arah langkah yang harus kutuju ketika mentari naik dengan penuh semangat untuk menyinari bumi.
Dunia pendidikan selalu begitu seksi bagiku, membuatku bergairah untuk terus bernapas. Meskipun awal mula aku terjun ke sekolah agar supaya orang tuaku mampu sedikit lega untuk berangkat mencari uang. Dengan demikian, mereka akan merasa aman apalagi sekolahku sudah full day sejak dulu. Aku senang bersekolah karena memiliki banyak buku bacaan yang tidak aku miliki di rumah, juga ada guru yang selalu siap menjawab segala tanyaku, dan juga aku memiliki ruang bermain yang luas sekali yaitu halaman sekolah. Semua hal itu tidak kumiliki di rumah. Rumahku tidak memiliki halaman, orang tuaku jarang di rumah, dan orang tuaku juga belum mampu menyediakan buku bacaan yang banyak. Namun, orang tuaku akan senang hati membawakan aku buku yang mereka dapat entah dari mana.
Aku hanya pernah sekali bergumam kepada diriku saat bermain bahwa aku ingin menjadi guru karena melihat ibu guruku yang sangat cantik, pintar, dan sangat baik kepada siswa lewat di depanku sambil tersenyum manis. Aku begitu terkagum-kagum kepada beliau saat itu. Namun, setelah itu aku lupa akan mimpi tersebut, dan melanjutkan bermimpi dari penyanyi, pemain peran, sampai keinginan untuk menjadi seorang jaksa. Sungguh lucu memang perjalanan cita-cita seorang anak perempuan ini.
Aku berkuliah di universitas yang memang didesain untuk melahirkan calon pendidik terbaik bangsa, dan pilihan tersebut adalah pilihan pertamaku kala itu. Meski awalnya aku memilih berkuliah di kampus tersebut karena hanya ingin belajar matematika. Aku akhirnya tersadarkan bahwa aku jatuh cinta akan dunia pendidikan sejak dulu tanpa aku sadari. Dari sini, aku bertekad untuk terus berpijar dibarisan para pendidik, semoga Tuhan memudahkan langkah di jalan-jalan kesunyian ini.

0 Komentar