Mingingat adalah proses kau mencoba mengingat kembali karena pernah mengenal dan mengalami peristiwa tersebut (Ibu Uun)
Disubuh buta ini tiba-tiba aku mengingat langkah kakimu yang berburu dengan waktu, melangkah ke dapur yang memiliki tungku bukan karena tidak memiliki kompor gas dan tabungnya, hanya saja dirimu lebih menyukai masakan hasil pematangan tungku tanah liat dimana tiupan napasmu kadang-kadang menjadi penyebab api melahap kayu dengan rakusnya.
.
.
Ingatanku semakin liar memutar waktu bersamamu. Mencoba membaui nasi matang olahanmu, yang sejujurnya tidak begitu aku sukai karena bau asap yang sangat melekat, hanya saja aku tidak mempunyai kekuatan memilih karena tidak sanggup mematangkan beras didalam rice cooker, yang sempat ibuku beli sebelum pada akhirnya aku dititipkan bersamamu diusiaku yang terbilang masih imut-imutnya.
.
.
Ingatan ini tak mungkin ku buyarkan meskipun sebagian hatiku tak sanggup menikmatinya. Ku rebahkan sejenak raga yang melemas kini, raut muka keriput mu menari-nari di langit atap kamarku.
.
.
Ku ingat betul, Kau memanggil untuk menggisi perut yang memang sedari dulu tidak nyaman untuk makan pagi, dengan dibantu kata-kata malas aku menolak untuk makan menu masakan yang telah kau sajikan dengan sungguh-sungguh, padahal tangan rentanmu mengigil membasuh beras hasil panen sawah milikmu di dini hari.
.
.
Aku ingat pernah berkata kepadamu. Kenapa sih harus susah-susah menanam padi? Kenapa tidak dibeli saja dari pasar yang buka hampir setiap harinya bahkan ada pasar dekat rumah yang menjual semua aneka kebutuhan mata dan perut, namun kau hanya menjawab sekenanya, katamu kalau tidak menanam beras kita tidak akan makan karena profesimu bukan sebagai orang makan gaji, kau adalah petani. Itu katamu dulu.
.
.
Ah! Aku ingat kala dirimu mengiming-imingiku uang kalau aku mau membantumu disawah, meski ku tau bahwa pekerjaanku dalam membantu paling sebatas berlari mengitari sawahmu dan sawah tetangga kemudian kembali kerumah sawah menyantap masakan kuah santan kesukaanmu dan selalu ada tempe yang dipotong kecil-kecil dimasak kecap kesukaanku. Kadang itu betul-betul menjadi milikku, bersebab makan tidak mengingat kalau perut bukan hanya aku yang miliki.
.
.
Aku tertarik melihatmu, tante, om dan ibu-ibu tetangga yang dengan lihainya mengunakan sabit penuh ambisius mematahkan batang padi berisi didepanku. Aku kemudian memintamu untuk mengizinkanku memegang sabit kecil yang sengaja kau beli untuk ku pakai di musim padi menua. Senang rasanya melangkah kemudian memangkas melangkah lagi kemudian memangkas ku genggan berpuluh-puluh batang padi berisi, aku suka. Dirimu sengaja menyisakan barisan padi paling sudut untuk bermain atau mungkin berbelajar. Karena aku tidak mungkin bersaing dengan dirimu dalam dunia persawahan.
.
.
Ku dengar kau beriak, sudah naik ke rumah sawah, matahari sangat terik. Kau memaksaku berhenti bermain dengan padi, aku bersikeras tak ingin berhenti. Kegiatan itu berlangsung hampir sepuluh menitan kemudian darah mengalir deras dari jariku aku menangis dan melemah akhirnya hidungkupun mengikuti laku dari jariku sama-sama berdarah. Dirimu panik dan semuanya. Aku segera dibawa pulang kerumah panggung hitam milikmu yang terbuat dari kayu sappu. Disana jariku dibersihkan dan dibalut oleh kain putih, aku sudah berhenti menangis namun masih lemah.
.
.
Setelah sawah aku diperkenalkan kebun olehmu. Sebenarnya aku suka karena ada pohon jambu, nangka belanda, jeruk manis, coklat, dan rambutan. Hanya saja jaraknya jauh sekali, harus membelah sawah melewati lembah dibawah terik matahari. Aku tidak suka dengan jarak yang terpisah jauh seperti aku dengan dua malaikatku.
"Kapan sampai, masih jauhkah, emmm aku lelah" itu kata-kata yang hampir ku ulang kala ku ingat untuk bersuara.
"Dekat, sebelah gurung ini"
Setelah itu aku tidak begitu percaya lagi dengan kata dekat definisi orang kampung. Semua jarak dikatanya dekat, padahal tubuhku hampir tumbang berisi lelah.
.
.
Benar saja setelah berjalan hampir enam puluh menitan kita sampai di tanah yang begitu subur ditumbuhi pepohonan besar dan kecil. Dipagari dengan dawai berduri, aku melewatinya mengunakan kayu yang kau simpan dengan sengaja untuk kujadikan pijakan menyembrang kedalam kebun. Sungguh bahagia, mataku tak henti-hentinya dibuat kagum akan hijaunya daun yang tumbuh dari batang-batang. Ada tumbuhan yang asing ku lihat, tidak ada di halaman rumahmu. Buahnya kecil-kecil bergerombolan berwarna hijau dan ada yang merah bahkan ada yang hitam bentuknya bulat seperti guli mainan sepupuku. Kau menyebutnya buah kopi.
.
.
Waktu berlalu, adzan subuh bergumandang. Akupun diarahkan berhenti untuk melanjutkan kenangan tentangmu. Kabarmu masih seputar kesehatanmu yang terganggu, kau baru saja keluar dan masuk lagi disebuah gedung putih berbau alkohol. Katamu jangan khawatir, sudah lumrah kan diusiamu menjelang di ujung.
Disubuh buta ini tiba-tiba aku mengingat langkah kakimu yang berburu dengan waktu, melangkah ke dapur yang memiliki tungku bukan karena tidak memiliki kompor gas dan tabungnya, hanya saja dirimu lebih menyukai masakan hasil pematangan tungku tanah liat dimana tiupan napasmu kadang-kadang menjadi penyebab api melahap kayu dengan rakusnya.
.
.
Ingatanku semakin liar memutar waktu bersamamu. Mencoba membaui nasi matang olahanmu, yang sejujurnya tidak begitu aku sukai karena bau asap yang sangat melekat, hanya saja aku tidak mempunyai kekuatan memilih karena tidak sanggup mematangkan beras didalam rice cooker, yang sempat ibuku beli sebelum pada akhirnya aku dititipkan bersamamu diusiaku yang terbilang masih imut-imutnya.
.
.
Ingatan ini tak mungkin ku buyarkan meskipun sebagian hatiku tak sanggup menikmatinya. Ku rebahkan sejenak raga yang melemas kini, raut muka keriput mu menari-nari di langit atap kamarku.
.
.
Ku ingat betul, Kau memanggil untuk menggisi perut yang memang sedari dulu tidak nyaman untuk makan pagi, dengan dibantu kata-kata malas aku menolak untuk makan menu masakan yang telah kau sajikan dengan sungguh-sungguh, padahal tangan rentanmu mengigil membasuh beras hasil panen sawah milikmu di dini hari.
.
.
Aku ingat pernah berkata kepadamu. Kenapa sih harus susah-susah menanam padi? Kenapa tidak dibeli saja dari pasar yang buka hampir setiap harinya bahkan ada pasar dekat rumah yang menjual semua aneka kebutuhan mata dan perut, namun kau hanya menjawab sekenanya, katamu kalau tidak menanam beras kita tidak akan makan karena profesimu bukan sebagai orang makan gaji, kau adalah petani. Itu katamu dulu.
.
.
Ah! Aku ingat kala dirimu mengiming-imingiku uang kalau aku mau membantumu disawah, meski ku tau bahwa pekerjaanku dalam membantu paling sebatas berlari mengitari sawahmu dan sawah tetangga kemudian kembali kerumah sawah menyantap masakan kuah santan kesukaanmu dan selalu ada tempe yang dipotong kecil-kecil dimasak kecap kesukaanku. Kadang itu betul-betul menjadi milikku, bersebab makan tidak mengingat kalau perut bukan hanya aku yang miliki.
.
.
Aku tertarik melihatmu, tante, om dan ibu-ibu tetangga yang dengan lihainya mengunakan sabit penuh ambisius mematahkan batang padi berisi didepanku. Aku kemudian memintamu untuk mengizinkanku memegang sabit kecil yang sengaja kau beli untuk ku pakai di musim padi menua. Senang rasanya melangkah kemudian memangkas melangkah lagi kemudian memangkas ku genggan berpuluh-puluh batang padi berisi, aku suka. Dirimu sengaja menyisakan barisan padi paling sudut untuk bermain atau mungkin berbelajar. Karena aku tidak mungkin bersaing dengan dirimu dalam dunia persawahan.
.
.
Ku dengar kau beriak, sudah naik ke rumah sawah, matahari sangat terik. Kau memaksaku berhenti bermain dengan padi, aku bersikeras tak ingin berhenti. Kegiatan itu berlangsung hampir sepuluh menitan kemudian darah mengalir deras dari jariku aku menangis dan melemah akhirnya hidungkupun mengikuti laku dari jariku sama-sama berdarah. Dirimu panik dan semuanya. Aku segera dibawa pulang kerumah panggung hitam milikmu yang terbuat dari kayu sappu. Disana jariku dibersihkan dan dibalut oleh kain putih, aku sudah berhenti menangis namun masih lemah.
.
.
Setelah sawah aku diperkenalkan kebun olehmu. Sebenarnya aku suka karena ada pohon jambu, nangka belanda, jeruk manis, coklat, dan rambutan. Hanya saja jaraknya jauh sekali, harus membelah sawah melewati lembah dibawah terik matahari. Aku tidak suka dengan jarak yang terpisah jauh seperti aku dengan dua malaikatku.
"Kapan sampai, masih jauhkah, emmm aku lelah" itu kata-kata yang hampir ku ulang kala ku ingat untuk bersuara.
"Dekat, sebelah gurung ini"
Setelah itu aku tidak begitu percaya lagi dengan kata dekat definisi orang kampung. Semua jarak dikatanya dekat, padahal tubuhku hampir tumbang berisi lelah.
.
.
Benar saja setelah berjalan hampir enam puluh menitan kita sampai di tanah yang begitu subur ditumbuhi pepohonan besar dan kecil. Dipagari dengan dawai berduri, aku melewatinya mengunakan kayu yang kau simpan dengan sengaja untuk kujadikan pijakan menyembrang kedalam kebun. Sungguh bahagia, mataku tak henti-hentinya dibuat kagum akan hijaunya daun yang tumbuh dari batang-batang. Ada tumbuhan yang asing ku lihat, tidak ada di halaman rumahmu. Buahnya kecil-kecil bergerombolan berwarna hijau dan ada yang merah bahkan ada yang hitam bentuknya bulat seperti guli mainan sepupuku. Kau menyebutnya buah kopi.
.
.
Waktu berlalu, adzan subuh bergumandang. Akupun diarahkan berhenti untuk melanjutkan kenangan tentangmu. Kabarmu masih seputar kesehatanmu yang terganggu, kau baru saja keluar dan masuk lagi disebuah gedung putih berbau alkohol. Katamu jangan khawatir, sudah lumrah kan diusiamu menjelang di ujung.
0 Komentar