Gula. Memiliki rasa begitu manis, hingga kita lupa bahwa kopi itu aslinya pahit bersebab gula. Rasanya membuat semua menjadi suka hingga merambah kedalam semua lini kehidupan. Dulu aku begitu suka akan sesuatu yang manis. Kini, aku terlalu takut jika ada yang bersikap manis kepadaku. Mereka lupa indra perasa jauh lebih peka dibanding indra penglihatan.
Hari kemenangan dirayakan dengan memohon maaf yang disebarluaskan melalui media sosial, sentuhan dihilangkan bersebab kondisi. Kata bermain dengan apik seolah mampu menyentuh relung terdalam, sayangnya nihil. Banyak yang terkesan basa basi, busuk lagi. Bahkan sentuhan pun demikian. Ironis.
Aku selalu dibuat iri dengan keahlian yang dimiliki oleh sebagian manusia masa kini kenapa aku tidak mampu mempelajarinya. Kalau marah, marahku terlihat, kalau sedih, sedihku terkuak, kalau benci, benciku tergambarkan. Aku sulit tersenyum, bercanda bahkan untuk makan berdampingan pun aku sulit. Ada ledakan yang tidak mampu kuredamkan persis bubuk mesiu kalau meledak seluruh alam mendengar dan menyaksikan.
Aku berpikir, kenapa harus sembunyi dibalik sikap setengah-setengah, kenapa harus berperan ganda untuk diri yang ganjil, lalu mengeluh kesana kemari hingga rumit mengambil keputusan untuk menemukan solusi. Terlalu dibuai dengan liyan yang lain, sampai lupa didalam diri ada hati yang fungsinya menuntun karena ia sebenarnya adalah kompas.
Mendengar. Perihal ini cukup banyak yang mendebat, jika ingin didengar maka mendengarlah, selalu seperti itu. Mereka lupa satu hal, mendengar harus diikuti menimbang segala sisinya sebelum aksi digencarkan. Mendengar dan telan bulat-bulat adalah bukti kita robot. Masih berani menyebut diri manusia? Kecuali satu hal yang ku ingat dari Etta ku, katanya: kecuali ilmu agama ada yang memang harus didengar dan diikuti itu sudah cukup, karena dengan berjalannya waktu dan semangat kita untuk mencari jawaban atas pertanyaan akan muncul dengan sendirinya.
Banyak nasihat dari sekeliling kita, banyak cara penyampaiannya, kita haruslah bisa memastikan keputusan yang kita ambil sesuai dengan hati dan pertimbangan yang tepat bukan asal kutip kemudian salin. Ingat suara diluar liyan tetap didengarkan dan hati adalah penentunya. Dengan begitu kau bisa membedakan mana gula dan mana bubuk mesiu.
Hari kemenangan dirayakan dengan memohon maaf yang disebarluaskan melalui media sosial, sentuhan dihilangkan bersebab kondisi. Kata bermain dengan apik seolah mampu menyentuh relung terdalam, sayangnya nihil. Banyak yang terkesan basa basi, busuk lagi. Bahkan sentuhan pun demikian. Ironis.
Aku selalu dibuat iri dengan keahlian yang dimiliki oleh sebagian manusia masa kini kenapa aku tidak mampu mempelajarinya. Kalau marah, marahku terlihat, kalau sedih, sedihku terkuak, kalau benci, benciku tergambarkan. Aku sulit tersenyum, bercanda bahkan untuk makan berdampingan pun aku sulit. Ada ledakan yang tidak mampu kuredamkan persis bubuk mesiu kalau meledak seluruh alam mendengar dan menyaksikan.
Aku berpikir, kenapa harus sembunyi dibalik sikap setengah-setengah, kenapa harus berperan ganda untuk diri yang ganjil, lalu mengeluh kesana kemari hingga rumit mengambil keputusan untuk menemukan solusi. Terlalu dibuai dengan liyan yang lain, sampai lupa didalam diri ada hati yang fungsinya menuntun karena ia sebenarnya adalah kompas.
Mendengar. Perihal ini cukup banyak yang mendebat, jika ingin didengar maka mendengarlah, selalu seperti itu. Mereka lupa satu hal, mendengar harus diikuti menimbang segala sisinya sebelum aksi digencarkan. Mendengar dan telan bulat-bulat adalah bukti kita robot. Masih berani menyebut diri manusia? Kecuali satu hal yang ku ingat dari Etta ku, katanya: kecuali ilmu agama ada yang memang harus didengar dan diikuti itu sudah cukup, karena dengan berjalannya waktu dan semangat kita untuk mencari jawaban atas pertanyaan akan muncul dengan sendirinya.
Banyak nasihat dari sekeliling kita, banyak cara penyampaiannya, kita haruslah bisa memastikan keputusan yang kita ambil sesuai dengan hati dan pertimbangan yang tepat bukan asal kutip kemudian salin. Ingat suara diluar liyan tetap didengarkan dan hati adalah penentunya. Dengan begitu kau bisa membedakan mana gula dan mana bubuk mesiu.
0 Komentar